Yang istimewa dari masakan Aceh? Bumbu yang beragam dalam satu masakan sehingga rasanya begitu ‘padat’. “Dalam satu resep saja bisa menggunakan 24 jenis rempah,” ujarnya. Banyak dari bahan ditunggunya dengan setia dari Aceh. Untuk Kuah Pli’u --sayur serupa lodeh-- misalnya, membutuhkan pli’u, kopra dari sisa pembuatan minyak kelapa yang diperas kemudian dibiarkan menetes hingga kadar minyaknya habis. Proses ini sekitar tiga hari. Produksi minyak kelapa yang menurun tajam di Aceh membuat harga pli’u mahal. Walau demikian, Kuah Pli’u masih dicari-cari meski harga per porsinya tak lagi murah.
Pasokan ikan ‘kayu’ di sini juga dari kampung halaman. Ikan kayu atau keumamah merupakan ikan cakalang yang direbus dengan bumbu, kemudian dijemur di bawah panas matahari selama beberapa hari hingga bertekstur seperti balok kayu. Sesuai yang diajarkan keluarga, Ratna menyuwir ikan ‘kayu’ lalu memasaknya berjam-jam dengan bumbu hingga mengering seperti abon ikan. Taipan media Surya Paloh sering memesannya sebagai taburan roti.
Idealisme memperkenalkan budaya makanan Aceh berbuah manis. Salah satunya dengan diundangnya RM Seulawah untuk berpartisipasi dalam banyak festival kuliner di Jakarta. RM Seulawah juga pernah berkesempatan mengisi kios Waroeng 100 Hari di pujasera Urban Kitchen, Plaza Indonesia, serta memiliki kios permanen di Summarecon Mal Bekasi. (f)
Rumah Makan Seulawah
Jln. Bendungan Hilir Raya No. 8, Jakarta
Telp. (021) 5708660