Setelah dibakar, daging sapi ini menunjukkan kehebatannya. Tak hanya berbekal cita rasa mak nyuss, tekstur dagingnya pun empuk. Tidak perlu mengeluarkan tenaga ekstra saat menggigitnya. Jika dihubungkan dengan satai khas Plered yang juga terbuat dari sapi dan diracik hingga menyerupai dendeng, sensasi satai Betawi justru lebih mengingatkan kita pada satai ayam, saking empuknya!
Pak Juni juga tidak pelit untuk menyiramkan bumbu kacang ke atas satainya. Sensasi pedasnya menonjol karena jumlah kacangnya tidak berlebih, dipadu bawang putih dan cabai merah yang royal. Dikucur jeruk nipis, rasanya makin komplet!
Soto tangkar di sini juga mampu mengejar popularitas satai. Kuah santannya beraroma ketumbar dan jintan, pengaruh dari meleburnya warga Arab di perkampungan Betawi. Ketika dahulu masyarakat Betawi hanya mampu menggunakan tangkar, yakni potongan tulang iga yang hanya berdaging sedikit di dalam soto ini, versi Pak Mahmud memperlihatkan pergerakan Betawi masa kini yang juga menambahkan isi berupa sandung lamur. Kedua jenis daging ini aromatik karena kuahnya berempah. Dengan adanya sandung lamur, sajian ini favorit di kalangan penggemar daging sapi berlemak.
Lokasi: Jl. Bhayangkara Raya No.26 (Depan Pusdiklantas POLRI), Serpong. Telp: 081315092345. Harga*): Rp6.000 – Rp20.000/ porsi. Jam Buka: Sabtu–Kamis, pukul 10.00 – 21.00 WIB. Suasana: Warung makan sederhana.
*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.
BLI. FOTO: HONDA TRANGGONO.