Satu dekade terakhir bisa dibilang menjadi periode emas pertumbuhan busana islami, yang sering kita sebut sebagai busana muslim, oleh wanita Indonesia. Jumlah pemakainya melonjak pesat. Para desainer yang mengeluarkan lini busana muslim kian banyak, dari yang desainer mapan hingga desainer muda.
Banyak studi dilakukan untuk mencari tahu mengapa fenomena ini terjadi. Salah satunya tidak bisa lepas dari peran Orde Baru yang di periode akhir kekuasaannya –tahun ‘90-an-- mulai merangkul Islam, dan memberikan keleluasaan bagi wanita muslim untuk mengenakan jilbab.
Sejak itu, pemakaian jilbab yang dulunya sempat dibatasi –bahkan pernah dilarang dikenakan di sekolah dan kantor-- kini menjadi populer. Jilbab, yang dulu identik dengan wanita kampung, wanita sepuh, atau yang sudah naik haji, kini sudah dikenakan oleh siapa saja, dari segala kalangan, bahkan anak-anak baru gede.
Selain itu, Sonny dalam tesisnya juga menanggapi dengan pemakaian kata hijab (termasuk hijaber) yang saat ini sering dipakai. “Kalau kita mengikuti kosakata bahasa Indonesia, yang benar adalah jilbab atau kerudung, yaitu kain yang digunakan untuk menutup rambut. Selain itu, makna hijab sebetulnya lebih luas, yaitu seseorang yang sudah hidup penuh kebaikan dan bisa menutup aib keluarga dan orang lain, entah itu ia memakai jilbab atau tidak,” terangnya.
Ketika di lapangan sudah menjadi fenomena, dan dalam waktu yang relatif cepat pula, tentu saja memunculkan konsekuensi-konsekuensi lain. “Di sini, tentu kita tidak berbicara tentang kaitan antara jilbab dengan kadar keimanan seseorang, karena kadar keimanan seseorang itu sangat personal dan tidak ada kaitannya dengan busana,” ujar Sonny, yang untuk tesisnya, ia berdiskusi dan mewawancarai banyak ustaz dan ahli agama, seperti Komaruddin Hidayat, Nurcholis Majid, dan Emha Ainun Nadjib. (f)