Selain semangat dan niat baik, untuk maju sebagai calon legislatif hendaknya sudah punya bekal. Menurut Adinda Tenriangke, Direktur Program dan Pengamat Kebijakan Publik The Indonesian Institute, bekal yang dimaksud adalah seorang caleg telah terjun dalam organisasi kemasyarakatan atau jaringan profesional paling tidak selama lima tahun. Gunanya, agar ketika maju, ia sudah kaya pengalaman dan sudah memiliki jaringan strategis yang memadai untuk basis suaranya di dapil.
“Hal ini juga menjadi bekal untuk memperkaya kapabilitas caleg menyangkut tugasnya sebagai dewan. Hubungan dengan parpol, pemerintah, parlemen, serta pemangku kepentingan lainnya,” tambah Adinda.
“Terus terang, modal saya yaitu pengetahuan dan pengalaman belajar di beberapa negara. Itu menjadi sebuah barometer untuk memajukan Indonesia, terutama di bidang pendidikan,” ujar Sisca Devianti (33) dari Partai Bulan Bintang (PBB).
Sebelum masuk politik, ia adalah guru bahasa Inggris freelance. “Tapi, prinsip saya ‘never say never’, saya selalu ingin belajar, ingin memajukan diri. Mungkin, pertimbangan mengapa saya ditempatkan di dapil DKI Jakarta II karena seumur hidup saya sering di luar negeri,” ujar Sisca, yang punya latar belakang keluarga diplomat.
Begitu juga dengan Camellia Panduwina Lubis (Camel), 28, dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). Ia mengaku, sejak dulu ia memang senang berorganisasi. Ia juga sempat terlibat organisasi mahasiswa bernama GAGAK (Gerakan Aku Geram dan Anti Koruptor), yang anggotanya para mahasiswa.
“Saya pernah menjadi Wakil Presiden Kampus di universitas, serta menjadi lulusan terbaik Universitas Al Azhar Medan. Saya juga senang melakukan kegiatan sosial. Misalnya, menampung anak-anak penderita AIDS di dekat rumah saya,“ ungkap Camel.
Camel menambahkan, ia sangat aktif di gerakan kepemudaan sehingga sering diajak bergabung dengan parpol sebagai simpatisan. Camel sempat bergabung dengan beberapa partai, seperti PDIP, Partai Demokrat, hingga Gerindra, sebelum akhirnya memutuskan bahwa agenda PKPI adalah yang paling cocok dengan hati nuraninya. “Saya hanya ingin membuat Indonesia menjadi lebih baik,” ujar wanita yang mewakili dapil DKI Jakarta II nomor urut 3 ini, tersenyum.
Ani Soetjipto, pengamat politik dan juga dosen FISIP UI, mengamati, biasanya para caleg pemula tidak akan ditempatkan di dapil yang enteng. Maksudnya, daerah pemilihan yang bukan basis massa partai politik mereka sehingga persaingan untuk mendapatkan suara menjadi sangat berat. Belum lagi, mereka biasanya juga ditempatkan di nomor urut yang besar. “Dugaan saya, kecil kemungkinan mereka bisa menang. Jika sampai bisa terpilih, bisa dibilang itu mukjizat,” jelas Ani.
Meski tahu akan sulit, Ani menambahkan, mereka telah menunjukkan semangat yang besar untuk negara. Semua peserta diskusi ini memiliki empati dan ingin bekerja keras untuk memperbaiki dan mengabdikan diri pada negara.
Mengingat politik adalah arena baru, sanggupkah mereka menghadapai tantangan ini? “Tentu saja saya sanggup dan harus siap,” tutur Kartini Tilawati (45) dari Partai Demokrat. Menurutnya, partainya memberikan pembekalan kader. Mereka diajarkan untuk menghitung berapa suara yang akan diambil tiap caleg di dapilnya. Contohnya, ketika pemilu tahun 2009, Demokrat membutuhkan 25.000 suara untuk meraih 1 kursi dari 3 kursi yang tersedia di dapil Kartini, yaitu Bangka Belitung.
Menurut Kartini, meskipun bukan basis Demokrat, Bangka Belitung menjadi dapil yang harus dipertahankan. Partai juga selalu menekankan kepada kader bahwa mereka bukan memperebutkan kursi itu untuk pribadi, tapi untuk suara partai. Jadi, masing-masing caleg harus tandem dengan wakil mereka untuk DPRD dan DPD, berjuang bersama untuk 1 kursi. “Saya tidak punya modal basis suara, tapi caleg-caleg lain tahu bagaimana caranya agar saya bisa mendekati rakyat kecil. Saya dipersiapkan untuk mendekati wanita,” jelas Kartini.
Di Hanura, Soni juga mendapat pembekalan dari partai. Saat ia harus turun ke dapil, ia tandem dengan caleg DPD dan DPRD karena mereka dianggap lebih mengenal areanya. “Terus terang, cara ini memudahkan langkah saya,” ujar wanita yang juga single mother ini.
Menurut Yenni, ia diberi kesempatan oleh partai untuk memilih daerah pilihannya. “Kebetulan, karena suami saya orang Sumatra Utara, maka saya pilih dapil Sumatra Utara I. Saya berjuang di Medan, dan dengan nomor urut 6, tentu butuh kerja keras. Meski pada pemilu 2009 lalu PDIP hanya mendapat 1 kursi di dapil ini, saat ini saya optimistis bisa mendulang lebih dari 1 kursi,” tutur Yenni.
Hal yang sama juga ‘dinikmati’ oleh Hani, yang bisa memilih daerah konstituennya. “Saya memang generasi baru dan pertama kali ikut pemilu. Saya pilih dapil Banten III, yang tak lain adalah kampung halaman saya sendiri. Jadi, ini panggilan bagi saya untuk membangun Banten III, yang pada pemilu 2009, PKB tidak mendapatkan kursi di dapil ini. Mudah-mudahan keseriusan saya bisa menghasilkan sesuatu,” kata Hani, optimistis.
Ficky Yusrini