Food Review
Berburu Putu Bambu

17 Sep 2014

Ini adalah kunjungan kedua femina ke Putu Medan Cikini. Kali ini, sengaja datang pukul 8 malam, 1 jam lebih awal dari sebelumnya. Mengingat pengalaman terdahulu harus menunggu lebih dari 30 menit untuk sekadar mencicipi putu bambu, serta kehabisan putu mayang dan klepon.
   
Di sebelah gerobak, tampak Anton Supriadi sedang duduk santai sambil memilah wadah pembungkus kue. Artinya, tak perlu mengantre lama untuk dibuatkan putu bambu dan kemungkinan besar kue lainnya masih ada.
“Putu mayang habis diborong. Tapi masih ada putu bambu, 10 buah klepon, dan 4 buah lopis,” jelas Anton. Duh, lagi-lagi kehabisan putu mayang.
Konsistensi Anton dalam menjaga kualitas putu medan, putu mayang, lopis, dan klepon selama 10 tahun, menumbuhkan loyalitas pada pelanggan. Langkah instan, enggan dilakukannya. Ia hanya menggunakan tepung beras yang dipesan khusus dari penggiling tepung agar tekstur kue lebih pulen.

Putu bambu juga masih dicetak dan dikukus dalam selongsong bambu, serta dibuat mendadak. “Saya juga pantang menambahkan pewarna sintetis karena samar akan timbul rasa pahit,” tegasnya. Catatan untuk pengusaha kuliner masa kini yang banyak mengadopsi jalan pintas.

Bila masih ada lopis, jangan lupa minta dibungkus. “Awet hingga 2 hari bila disimpan di dalam lemari es. Bila lopis sudah tidak lengket saat dibuka, artinya sudah tidak bagus,” pesan Anton. (f)    
Advertisement

Alamat:
Pasar Kembang Cikini, Jakarta Pusat.
Telp:
(021) 70534994.
Jam buka:
17.00-22.00 WIB.
Harga*):
Rp2.000.
Suasana:
Penjual kaki lima dengan gerobak dorong. Tersedia kursi plastik untuk menunggu pesanan atau makan di tempat.

*) Harga dapat berubah sewaktu-waktu, cek sebelum bersantap.




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?