BERAWAL DARI GEROBAK
Ditelusuri lebih jauh, street food sebetulnya tak sekadar jajanan pinggir jalan atau berupa makanan tradisional. Banyak pihak merasa bahwa street food bisa bermakna comfort food. Artinya, jajanan itu bisa memberikan rasa nyaman dan membangkitkan romantisisme nostalgia saat disantap. Hal ini diamini KF Seetoh, pendiri Makansutra, sebuah komunitas kuliner di Singapura. Inilah obrolan menarik yang tersisa selepas suksesnya World Street Food Congres 2013, awal Juli lalu di sana.
Menurutnya, street food adalah budaya yang tidak bisa dipisahkan dari comfort food. “Bentuknya bisa berupa sajian tradisional atau kontemporer yang dikemas ke dalam sebuah sajian yang bisa dinikmati semua orang. Dan, yang pasti street food harus bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat dengan harga terjangkau, tanpa mengorbankan kualitas dan cita rasa yang jempolan.”
Tidak adanya regulasi pasti membuat jumlah pedagang kaki lima di tiap negara membengkak dan menimbulkan efek domino. Dari kebersihan jalan, tata kota, hingga konsistensi rasa street food itu sendiri.
-
Food culture multikultur ini terselamtkan oleh program pembangunan pujasera –kala itu disebut hawker centre- di tiap wilayah. “Relokasi dilakukan besar-besaran pada tahun 1971,” sambung Daniel Wang, mantan Direktur Jenderal Public Health di Singapura. Pedagang yang awalnya menolak karena khawatir tidak bisa menjual makanan dengan harga murah lagi, justru mendapat keuntungan maksimal dengan banyaknya wisatawan yang makan.
LAIN TEMPAT, LAIN PRIMADONA
Pusat jajanan kaki lima yang pertama dibuka adalah Newton Circus, tak jauh dari tempat populer Orchard Road. Disusul oleh Tiong Bahru dan banyak tempat lain. Serunya, tiap hawker center punya jenis makanan yang jadi primadona dan diburu banyak orang. Sebutlah Tiong Bahru yang menjadi tempat lahirnya carrot cake, atau Bukit Timah yang ramai oleh pengunjung yang mencari jian bo shui kueh (kue lobak ber-topping sambal).
Dignity Kitchen turut menjadi hawker center yang banyak disorot dan dikunjungi. Berbeda dari area jajan lain, tempat yang didirikan oleh pengusaha ternama Koh Seng Choon pada tahun 2010 ini khusus disediakan untuk pedagang yang memiliki kekurangan jasmani (tunarungu, tunanetra, atau tunadaksa).
Konon, ini merupakan wujud rasa terima kasihnya kepada kelompok masyarakat itu. Tak tanggung-tanggung, Choon menyediakan alat khusus untuk mengakomodasi para pedagangnya itu. Makanan yang dijual sangat beragam, yang populer bak choor mee (mi ayam), kuih (jajan pasar), dan chicken rice.
Untuk kawasan yang lebih modern bisa dinikmati di Singapore Food Trail di kompleks Singapore Flyer. Dekorasinya bergaya vintage dan yang bergabung di sana adalah pedagang legendaris, mirip dengan pujasera Eat&Eat milik Iwan Tjandra di Jakarta. (MAHARANI DJOEIR, TRIFITRIA S. NURAGUSTINA)