Trending Topic
Belajar Puas

16 Sep 2015

Sepantasnya kita wawas diri, apa yang sebenarnya kita cari? “Sebenarnya, tidak ada yang salah atau negatif dengan gairah atau kehausan manusia yang memang tercipta demikian. Namun, jika hanya bersifat dangkal, artifisial, atau bahkan sekadar sensasional, maka orang itu akan menjadi bulan-bulanan keinginannya belaka,” ujar Andreas Toto Subagyo, seorang life coach, mengingatkan.

Pada akhirnya, manusia juga harus menyadari bahwa  tiap manusia memiliki keterbatasan, baik itu fisik, materi, maupun peranan sosial yang harus ia jaga. Karena itu, manusia juga mesti belajar mencari tahu apa yang ia cari dan menyesuaikan diri dengan batasan itu. Sebagian orang mungkin akan mendobrak segala batasan itu, tapi kebanyakan akan belajar merasa cukup dengan pencapaian-pencapaian yang ia dapatkan.

Advertisement
Toto mengajak kita untuk menyadari bahwa jika ukuran dari segala sesuatu adalah kepuasan, rasanya  manusia memang tidak akan pernah merasa puas. Dalam mitologi Jawa, ada kisah mengenai raksasa yang tak punya perut yang akan selalu menelan bulan sehingga terjadi gerhana bulan. Tetapi, dia tidak pernah merasa kenyang karena bulan tidak bisa disimpan di perutnya. Nah, kita menjadi seperti raksasa itu jika selalu mengejar kepuasan.

Merasa puas pun menurutnya bisa dilatih dengan belajar bersyukur  tiap saat,  tiap hari. Paradoksnya,  makin hati kita mampu bersyukur,  makin banyak hal yang kita temukan  pantas kita syukuri. Makin kita tidak mampu bersyukur, makin kita sulit menemukan apa yang layak disyukuri. “Aurelius Augustinus (354-430), seorang pujangga dari Hippo (Algeria), mengungkapkannya demikian: ‘My heart is restless until it finds its rest in Thee.’ Bagi Augustinus, hanya Tuhan yang bisa memuaskan kehausan jiwanya,” ujar Toto. (f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?