Kemajuan teknologi digital mau tidak mau mengubah sistem di segala bidang, tak terkecuali evolusi di bidang pendidikan. Semua orang kini memiliki kesempatan yang sama untuk dapat belajar dari sekolah, universitas, dan guru-guru terbaik dari seluruh dunia. Proses belajar makin mudah, bisa dilakukan di sekolah, di rumah, atau di mana pun. Materi belajar bahkan dapat diakses melalui ponsel. Internet lambat laun mengubah wajah pendidikan di Indonesia.
Fenomena belajar online makin banyak dijumpai, terutama di kota-kota besar. Mahasiswa tidak lagi harus datang ke kampus tiap hari. Belajar pun tak perlu di kelas. Kecanggihan teknologi internet membuat semua orang bisa belajar dengan mudah dan di mana pun.
Direktur Online Learning Bina Nusantara University, Dr. E.A. Kuncoro, S.E., M.M., mengatakan, sistem pendidikan online atau yang disebut e-learning adalah metode delivery content pembelajaran dari sumber ke peserta didik menggunakan internet.
“Sifat pendidikan online ini, selain bertemu dosen di kelas, peserta didik bisa mengakses materi kuliah, tugas, aktif di forum diskusi dengan dosen, sesama mahasiswa dan dunia industri,” ujar Kuncoro.
Pihak kampus atau sekolah biasanya menyediakan sistem jaringan interaksi antara mahasiswa, dosen, maupun praktisi untuk saling berkomunikasi. Di dalamnya berisi bahan mata kuliah: e-book, presentasi powerpoint, video tutorial, animasi, webinar, dan sebagai sarana teleconference.
Menurut Kuncoro, Indonesia termasuk terlambat menerapkan e-learning, karena University of Phoenix di Amerika Serikat, sebagai perguruan tinggi online terbesar di seluruh dunia sudah memulainya puluhan tahun lalu, tepatnya tahun 1989. Padahal, jika dilihat dari luas wilayah dan kondisi geografinya yang kepulauan, Indonesia sangat cocok untuk menerapkan e-learning. Apalagi, saat ini penetrasi internet makin menjangkau ke daerah-daerah.
“Binus mulai mengembangkan e-learning sejak tahun 2000, kala itu sifatnya sebagai suplemen dari kelas regular. Biasanya hanya untuk mengumpulkan tugas-tugas. Melihat respons masyarakat yang positif, sejak tahun 2008 Binus membuka online learning,” jelas Kuncoro. Saat ini sudah ada 4 program studi yang menerapkan e-learning: Manajemen, Sistem Informasi, Akuntansi, dan Informatika.
Basisnya tetap tatap muka 30%, termasuk waktu ujian mahasiswa harus datang langsung. Untuk tiap mata kuliah, ada deadline ketat bagi mahasiswa untuk mengerjakan tugas. Keaktifan siswa mengumpulkan tugas sesuai deadline, berdiskusi di forum online, dan nilai ujian menjadi indikator penilaian sistem pembelajaran ini. “Mereka yang tidak mengerjakan tugas tentu tidak lulus dan harus mengulang. Untuk mereka yang cuti, hanya diperbolehkan 2 kali masa cuti,” jelas Kuncoro.
Selain sistem kuliah formal di universitas swasta, pemerintah lebih dulu menerapkan kuliah jarak jauh dengan membangun Universitas Terbuka, yang sudah menjangkau ke tiap provinsi. Tidak ada batasan umur bagi mahasiswa UT. Usia berapa pun boleh mendaftar kuliah online.
“Ada yang karena profesinya, punya keterbatasan waktu, seperti artis, atlet, pengusaha, pilot. Atau, karena keterbatasan jarak seperti pekerja tambang di daerah terpencil dan tenaga kerja Indonesia di luar negeri. Banyak juga mereka yang memiliki keterbatasan fisik, seperti lumpuh, namun masih memiliki semangat untuk belajar,” ujar Kuncoro. (f)