Perlu diketahui bahwa tidak semua tempat bebas difoto. Terlebih lagi, di beberapa suku adat. Saat mau memotret sebaiknya lakukan pendekatan terlebih dahulu dengan warga, jangan langsung mengeluarkan kamera. Bagaimanapun, etika harus dijaga.
“Saya pernah membawa grup komunitas fotografi dari Malaysia. Mereka sudah di-briefing, enggak boleh sembarangan motret. Namun ada saja yang memotret di pinggir jalan. Dia pun dihampiri seorang warga dan diminta bayar Rp2 juta,” kisah Evi.
Evi menambahkan, ada sebuah kampung tradisional di Wamena yang terkenal dengan mumi. “Kalau di situ, sudah jelas ada tarifnya. Untuk mengeluarkan mumi, biayanya Rp150.000 untuk foto 1 grup. Kalau kita mau foto dengan mumi dan suku Dani, per orangnya Rp10.000. Kalau motret-nya 5 kali, berarti bayar Rp50.000,” jelas Evi.
Lantas, bagaimana dengan memotret dari ponsel? “Aturannya berlaku sama. Sebaiknya pastikan dulu situasinya. Di tempat tertentu, misalnya di kampung mumi, kadang warganya juga menganggap kamera ponsel sama dengan kamera besar. Umumnya, sih, tidak masalah. Kadang-kadang mereka juga senang diajak selfie bareng. Tapi, ada baiknya bicarakan dulu dengan guide lokal Anda,” tutur Evi.
Masalah foto, Yunita juga mengatakan, ada beberapa tempat di luar negeri yang harus diwaspadai. “Saat saya ke Colosseoum di Roma, Italia, misalnya, ada orang berpakaian admiral. Spontan banyak anggota rombongan yang meminta berfoto. Eh, tidak tahunya dia minta dibayar,” tutur Yunita.
Cara penduduk memperlakukan turis juga berbeda-beda. Fabiola Lawalata, seorang travel blogger, membagi pengalamannya berkunjung ke negara-negara yang bukan destinasi mainstream turis di negara pecahan Uni Soviet, seperti Georgia dan Armenia. “Mereka menganggap bahwa tamu adalah manusia yang dikirim oleh Tuhan. Jadi, jangan heran jika mereka begitu ramah kepada pendatang. Sekilas wajah mereka memang terkesan dingin, tapi jangan terkecoh dan mulailah untuk tersenyum lebih dulu. Senyum sesungguhnya punya efek menular,” kata Fabiola.
Cerita dari Bosnia Herzegovina juga memiliki kesan tersendiri. Siapa sangka negara yang namanya sering menghiasi layar berita di televisi di tahun 1990-an karena kondisi perangnya, pada saat ini adalah negara yang memberikan banyak kejutan menyenangkan.
“Sejarah perang yang pernah menjadi bagian gelap sejarah menjadikan mereka bangsa yang giat merangkak demi kehidupan yang lebih baik. Jangan kaget, ya, jika saat sarapan mereka memberikan Anda segelas kecil minuman beralkohol. Bukan untuk mabuk-mabukan, melainkan ini adalah bagian dari budaya sehari-hari mereka,” tuturnya. (f)