Bermula dari sebuah komunitas kecil yang terdiri dari ibu-ibu PKK, tebersitlah keinginan dalam benak Wulan Wibiyanti (41) untuk mendalami cara pengolahan sampah.
Kala itu, tahun 2009, ibu-ibu rumah tangga di Kelurahan Pitara, Pancoran, aktif berkumpul mengikuti pelatihan kerajinan tangan dengan memanfaatkan limbah rumah tangga menjadi barang bermanfaat. “Niat saya sederhana saja. Saya ingin memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di kelurahan Pitara ini melalui kegiatan kerajinan tangan, menggunakan bahan dasar barang-barang yang sudah tak terpakai lagi,” jelas Wulan.
Sebenarnya, ketertarikan Wulan pada pengelolaan sampah sudah ada sejak tahun 2007. Sayangnnya, ajakan mengelola sampah organik melalui metode sampah organisasi, kurang bisa diterima masyarakat setempat. Hingga pada tahun 2009, wanita ini akhirnya berhasil mengajak para warga mengenali pengolahan sampah nonorganik. “Masyarakat ternyata lebih tertarik pada sampah nonorganik, karena bisa diolah dan dapat menghasilkan uang,” tutur Wulan lagi.
Dibantu para anggota yang tergabung dalam Ikatan Ibu-ibu Pitara RT 1 (Ratu Recycle), Wulan lalu mengadakan ‘Sodaqoh Sampah’, yang bertujuan untuk mengumpulkan sampah-sampah plastik semisal bungkus kopi, pewangi pakaian, dan mi instan dari rumah-rumah. Tak disangka, Sodaqoh Sampah mendapatkan respons positif dari para warga. Ibu-ibu yang semula cuek dengan sampah, justru saling berlomba-lomba mengumpulkan sampah.
Setelah semua sampah plastik terkumpul, hasilnya diolah dan digunakan menjadi bahan dasar kerajinan tangan. Sampah-sampah yang sebelumnya tak berguna itu dirangkai menjadi beragam aksesori lucu seperti bando, dompet cantik, hingga tas tenteng.
Sukses menghasilkan beragam kerajinan tangan, persediaan sampah plastik pun makin menipis. Untuk mengatasinya, Wulan lalu mengambil langkah cerdas dengan mendirikan Bank Sampah pada tahun 2011. “Seperti bank pada umumnya, tiap nasabah akan mendapatkan buku tabungan. Masing-masing sampah yang diserahkan, punya nilai rupiah yang langsung masuk ke buku tabungan,” jelas Wulan. Bukan sembarang tabungan, saldo tiap nasabah baru bisa dicairkan setelah 3 bulan menabung.
Mengenai jenis sampah, Bank Sampah WPL menerima beberapa, asalkan masih memiliki nilai jual. Sampah berupa kertas koran, kardus, kertas buram, buku, plastik kemasan air mineral, ember plastik, hingga besi kuningan dan aluminium bisa menambah jumlah saldo di buku tabungan. Sedangkan untuk jenis sampah plastik makanan, detergen, atau pewangi, akan dimanfaatkan menjadi bahan baku membuat kerajinan tangan.
Tak hanya itu, warga juga diperbolehkan meminjam uang, dan membayarnya dengan sampah! “Konsep ini muncul karena ada beberapa warga yang terlilit utang berbunga tinggi. Saya ingin membantu mereka agar mau menabung. Meski jumlahnya tak terlalu besar, yang penting niatnya” tutur Wulan.
Selain menjadi penggerak masyarakat tentang kepedulian sampah, Bank Sampah WLP juga memberikan kesempatan kerja bagi para ibu rumah tangga serta remaja putri yang tertarik membuat kerajinan tangan. Sebanyak 70% hasil kerajinan tangan itu untuk kantong pribadi, sedangkan 30%-nya dijadikan modal. Sehingga, mereka yang mampu membuat banyak produk, tentu akan menghasilkan banyak rupiah.
Ke depannya, Wulan berharap, Bank Sampah WPL ini dapat meningkatkan minat menabung dalam diri masyarakat dan menghasilkan produk yang bisa masuk ke event-event tertentu seperti pameran. Namun, yang terpenting bagi Wulan, bukan pada jumlah saldo, melainkan niat menabung dan keinginan memanfaatkan sampah menjadi sesuatu yang bernilai.