Menurut Adriana, banyak pasangan yang masih memakai pendekatan yang salah. Untuk membicarakan hal yang penting, mereka perlu mencari waktu khusus, duduk bersama, dan membicarakan segala sesuatunya secara tuntas. Kenyataannya, karena sulit mencari waktu, akhirnya malah tidak ketemu-ketemu. ”Sebenarnya pembicaraan ini bisa dicicil, tidak harus dipadatkan dalam satu waktu, dan tidak perlu menentukan waktu khusus. Tetapi, cari kesempatan ketika pasangan terlihat relaks,” saran Adriana.
Menurut pengalaman, ketika permasalahan dibicarakan dalam satu momen, maka intensitas emosionalnya akan terlalu tinggi. Sehingga mereka malah jadi saling bersitegang dan bukan kompromi. Di satu sisi ada pihak yang memaksakan keinginan, dan di sisi lain ada pihak yang merasa belum siap.
Adriana melanjutkan, cobalah untuk fokus pada hal-hal kecil sederhana yang justru menjadi pemersatu Anda dan pasangan. Misalnya, hal-hal apa yang selalu membuat Anda berdua bahagia. Apakah itu ketika sedang berburu barang antik di pasar loak, atau mengantar anak-anak bermain. Atau seperti kisah Novita, dengan menghabiskan waktu berdua saja di Semarang. “Hal-hal kecil yang bisa diubah ini yang akan membuat pasangan lebih optimis terhadap perkawinannya,” ujar Adriana. Tentunya pendekatan ini akan lebih mudah, daripada ketika Novita memaksakan suaminya untuk berubah menjadi orang lain.