“Atasan merupakan orang yang pengaruhnya cukup besar, terutama bagi subordinat yang tidak cukup pede, tidak mandiri, tidak merasa memiliki peran yang kuat di perusahaan, dan tidak cukup berprestasi. Mandiri di dunia kerja bukan berarti bekerja sendiri, melainkan bisa dipercaya untuk melakukan pekerjaannya namun tetap bisa bekerja sama dengan orang lain. Orang yang tidak pede dan tidak mandiri mudah sekali terusik,” kata GM Susetyo dari perusahaan konsultan SDM, Graha Mitra Sukmana.
Jika terlalu sering menggantungkan diri pada atasan, misalnya mengandalkan atasan untuk mendapatkan solusi, tidak mengherankan jika dia begitu saja menerima tawaran atasan untuk pindah. Karena, ia membutuhkan perlindungan dari atasan tersebut. Apalagi, jika dia adalah karyawan yang sejak awal sudah menjadi anak titipan. Seandainya ia tidak juga menyadari ketergantungannya, ia akan terus menjadi pengikut atasan.
Dari sisi politik, orang-orang di perusahaan tujuan akan memberi Anda label sebagai ‘orangnya Bu A’ atau ‘orang bawaan Pak B’, atau sejenisnya. Pada akhirnya di dalam organisasi diam-diam terjadi polarisasi. Apa dampaknya?
“Di perusahaan yang iklim psikologisnya terlalu banyak terjadi manuver, biasanya kita akan susah berpikir jernih atau bersikap objektif. Teamwork tidak terbentuk, cross function tidak terjadi. Satu departemen maju, departemen lain justru menghambat. Akhirnya muncul sikap like and dislike. Pada situasi seperti itu, Anda akan sulit berkembang,” tegasnya. (f)