Tiga belas tahun lalu, setelah perpecahan Timor Leste dari Indonesia, Joao terpaksa berpisah dari ibu dan kedua adiknya untuk mengungsi dari Timor Leste. Kini, ia tinggal bersama ayahnya, Ronaldo, di Atambua. Kehilangan sosok ibu yang penuh kehangatan membuat Joao tumbuh menjadi pria yang bengal, yang tak punya tujuan hidup. Ia pun sulit berkomunikasi dengan ayahnya yang pemabuk. Akibatnya, Joao muda kehilangan panutan. Tapi, pertemuannya dengan Nikia, wanita muda dari Kupang yang tengah menyelesaikan urusan keluarga di Atambua, memberi semangat baru pada Joao.