Travel
Akhir Pekan di Kota Vintage

20 Jun 2011

Setelah lima hari bergulat dengan pekerjaan di London, saya, Rohaya Sitanggang, menikmati liburan akhir pekan di York. Sebuah kota kecil di Yorkshire Utara, dua jam perjalanan dengan kereta api dari London. Di kota yang beratmosfer vintage ini, saya menemukan suasana yang sangat jauh berbeda dari London yang hiruk pikuk. 

Rona Musim Semi
Pagi-pagi saya sudah berkeliaran di pusat kota. Saya memilih berjalan kaki dari tempat saya menginap ke pusat kota, kira-kira selama 45 menit. Selama itu, mata saya dimanjakan oleh pemandangan kota pada musim semi, bunga-bunga daffodil dan sakura dengan warna-warni kelopaknya, sungguh memanjakan mata. Satu hal yang sangat saya sukai dari hari itu, matahari bersinar ramah, sebuah kemewahan yang jarang saya rasakan sejak menginjakkan kaki di Inggris.

Bersih, itu kesan pertama saya saat menyusuri jalan-jalan di kota yang ditemukan bangsa Roma tahun  71 SM itu. Terlebih saat menempuh perjalanan menuju pusat kota dengan menaiki tembok, yang disebut York City Walls, sepanjang 2,5 mil (sekitar 4 km), kira-kira 2,5 jam perjalanan.

Sebagai informasi, kota ini memang terkenal dengan nama Walled City. Bangsa yang menjajahnya, mulai dari Roma, Angles, Viking, sampai Norman, bergantian membangun tembok untuk menjaga kota dari  musuh, mulai dari abad pertama Masehi sampai abad ke-16.

Dari ketinggian empat meter, pemandangan yang disajikan kota lebih terekspos. Pohon-pohon tertanam rapi, bunga-bunga berbagai jenis di pinggir jalan dengan warna-warninya menambah keceriaan. Udara sejuk dan nyaris tanpa polusi. Tak heran jika kota ini menjadi salah satu tujuan wisata favorit di Inggris.

Window Shopping!
Di pusat kota inilah tempat sebagian besar warga York beraktivitas, baik itu belanja, menikmati makanan, minum kopi atau teh, atau sekadar window shopping. Etalase-etalase toko bermerek tumpah ruah di sini.

Kebanyakan toko berukuran mungil dan menjual produk sangat spesifik. Hal ini terlihat lewat label fairtrade di depan pintu. The Cat Gallery, misalnya, khusus menjual beragam keperluan kucing peliharaan. Peter Rabbit and Friends, menjajakan pernak-pernik yang berhubungan dengan karakter kelinci dari buku anak-anak legendaris itu.

Setiap toko yang saya lewati, entah kenapa, mempunyai daya magnet yang besar, sehingga saya akhirnya menjelajahi satu per satu. Bahkan, sebuah bangunan kecil bernama 11/2 Whip Ma Whop Ma Gate yang terletak persis di lekukan jalan terpendek di York, yaitu Jalan Whip Ma Whop Ma Gate (artinya 'what a street'), ternyata adalah kantor jasa pencari tempat tinggal.

Ada satu hal lagi yang membuat saya tertarik: pernak-pernik yang berkaitan dengan royal wedding. Di toko-toko itu saya menjumpai piring, mug, bingkai foto, kotak mungil asbak, gantungan kunci, sendok/garpu, tatakan gelas, pena, sampai tempat bumbu dengan gambar pasangan William dan Kate Middleton. Lucunya, saat sedang melihat sebuah pajangan bergambar pasangan berbahagia itu, saya mendengar salah seorang warga lokal yang berdiri di samping saya berujar dengan logat York yang kental, “Oh, not again!” Saya cuma tersenyum dan tidak mau menginterpretasikan cetusan itu lebih jauh.

Jalan-Jalan di 'Diagon Alley'
Walau waktu jam makan siang sudah agak lewat, penjelajahan pusat kota York tak ingin saya hentikan. Apalagi, saat sampai di sebuah lekukan jalan bernama Little Shambels. “Ini seperti Diagon Alley di film Harry Potter,” kata teman saya.

Advertisement
Benar juga. Jalan ini sangat sempit dengan pavement terbuat dari granit berwarna hitam, lantas diapit toko-toko kecil berdinding batu bata tua, yang satu sama lain berhadapan nyaris berdempetan. Apalagi, jika memperhatikan bentuk toko pertama di muka jalan itu yang bentuknya persis Ollivanders, toko yang menjual tongkat sihir di serial Harry Potter. Toko ini membuat saya berpikir bahwa ini memang Diagon Alley. Padahal, itu adalah toko emas! Saya mulai membayangkan, bisa jadi beberapa orang yang berlalu-lalang di jalan yang sesak itu... adalah penyihir!

Menurut sejarah, pada abad pertengahan, jalan ini adalah tempat para penjual daging memamerkan dagangan mereka. Ratusan tahun yang lalu jalan ini dipenuhi daging. Darah dari hewan berceceran dan aroma jalan ini jauh dari kata wangi. Beda sekali dengan kondisi sekarang yang dipenuhi toko-toko beraroma sedap yang menjual kopi, manisan, roti, dan cokelat. Mengapa bagian atas toko-toko ini nyaris berdempetan? Karena, dulu harga tanah sangat mahal, sehingga untuk membuat rumah mereka lebih luas, warga harus membangun lantai kedua lebih lebar melebihi area tanah mereka dan membuat atap rumah mereka satu sama lain nyaris berdempetan.

Bagi Anda yang bepergian ke York dengan dana terbatas, seperti saya, ada banyak toko yang menjual sandwich seharga 1 poundsterling (Rp14.000)! Seperti resto Mr. £andwich yang memasang tulisan besar di depan tokonya: 'all sandwich £1.00'. Untuk sandwich berukuran besar dengan isian yang bisa dipilih, harga itu sangat tidak sia-sia. Tidak mengherankan, antrean cukup panjang tercipta di depan pintu toko mungil itu. Walau begitu, pelayanan mereka sangat cepat sehingga saya tidak perlu menunggu lebih dari 5 menit. Nyam... sandwich dengan isi chilli chicken yang saya beli rasanya enak sekali!

Empat Cangkir Teh di Betty's
Agenda saya adalah menikmati teh di tempat bernama Bettys Cafe Tea Room alias Betty's. Letak kafe ini di pusat kota, tepatnya di St. Helen's Square. Saat Anda berada di pusat kota, bangunan ini hampir mustahil terlewatkan. Dibanding bangunan kafe teh lain, Bettys jauh lebih besar, berlantai tiga, dicat warna putih bersih dengan aksen warna abu-abu pada pilar dan bagian atas kafe. Tulisan Bettys Cafe Tea Room diukir dengan cat emas.

Namun, tak mudah mendapatkan meja di Bettys. Saya harus mengantre. Saya 'tersiksa' dengan aroma roti yang semerbak. Setelah tiga puluh menit antre, barulah saya mendapatkan meja.  

Buku menu putih dengan desain sampul klasik, pramusaji wanita yang memakai celemek putih dengan gaun panjang hitam, para tamu prianya yang memakai jas hitam rapi, serta ruangan didominasi warna keemasan, membuat saya merasa berada di zaman ketika kaum bangsawan berkuasa di wilayah ini. Saat mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, semuanya tengah menikmati teh. Ini semua menciptakan atmosfer mewah.

Saya sempat bertanya kepada seorang pramusaji tentang asal-muasal nama kafe ini. Ia menjelaskan bahwa sampai sekarang tak ada yang tahu alasannya. “Hanya pemilik yang tahu. Jadi, ini semacam rahasia keluarga,” tutur pramusaji cantik itu dengan ramah.
Untuk tehnya, ada berbagai macam pilihan. Saya memilih Bettys Breakfast Tea, menu teh khas kafe yang sudah berdiri sejak tahun 1919 itu. Saat pesanan datang, mengeluarkan uang sebesar 3,35 poundsterling (Rp46.900) rasanya tidak sia-sia. Dihidangkan dengan cantik di nampan perak, satu poci teh berukuran medium, gelas, satu poci mini berisi susu dan sepoci mini bongkahan gula putih, semuanya berwarna senada, kuning keemasan. Rasa tehnya? Segar dan membuat saya relaks. Pelayanannya yang menyenangkan membuat saya merasa seperti seorang berdarah biru dalam beberapa jam.

Bagi penyuka kopi, kafe ini juga menyediakan kopi. Saat melihat buku menu, ada tulisan Java Kalibaru, a smooth but full-bodied coffee with amazing dark chocolate flavours, grown in the rich volcanic soils of Indonesia, seharga 3,75 poundsterling (Rp52.500), saya senyum-senyum sendiri dan bangga.
    
Tip
  1. Peta York tersedia gratis di toko-toko suvenir di pusat kota. Sebagian besar toko, museum, dan outlet di York rata-rata tutup antara pukul 4 atau 5 sore.
  2. Jika ingin naik bus ke pusat kota, biayanya cukup 3,70 poundsterling (Rp51.800) dan Anda bisa memakai bus ke mana pun di dalam kota sepuasnya. Cara lain menikmati kota bisa dengan bersepeda. Salah satu tempat peminjaman sepeda adalah Bob Trotter's Cycles.
  3. Tempat-tempat lain yang menarik, antara lain York Minster, katedral gotik terbesar di dataran Eropa Utara. Ada pula Ghost Trail, tur hantu yang berposko di depan York Minster dengan biaya tur 4 poundsterling (Rp56.000). National Railway Museum, museum kereta api terbesar di dunia tanpa biaya masuk! Jangan lewatkan melihat mewahnya kereta yang biasa dipakai Ratu Inggris dan keluarganya saat bepergian. St. Michael Church Cafe House, kafe yang dulunya adalah bangunan gereja.

Rohaya Sitanggang





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?