Trending Topic
#IFIGHTCANCER : KANKER TIDAK LEBIH KUAT DARI ANDA!

6 Oct 2015

    Maut. Satu kata inilah yang membayang begitu vonis kanker dijatuhkan oleh dokter. Namun, kemajuan teknologi serta pengobatan telah berhasil menaklukkan bayang maut yang dibawa oleh kanker. Bahkan, dengan deteksi dini, orang bisa terlepas sama sekali dari cengkeraman kanker. Sayangnya, minimnya kesadaran dan informasi masih membuat korban kanker terus berjatuhan.
Menjawab tantangan ini, femina dan CLEO, bekerja sama dengan Parkway Hospitals Singapura, belum lama ini menggelar talk show #IFIGHTCANCER. Not Stronger Than You.  Dengan menghadirkan dua dokter spesialis dari Parkway Cancer Centre dan Mount Elizabeth Hospital, Singapura, talk show ini bertujuan untuk membangun kesadaran, sekaligus membeberkan terobosan terbaru tentang kanker dan penanganannya.

WANITA PALING RENTAN

Gelak tawa mengiringi kemunculan karikatur kocak tentang suami yang keheranan melihat payudara istrinya tiba-tiba gepeng, seperti baru saja melewati mesin pencetak. “Ya, saya baru saja melakukan mamografi hari ini. Kenapa memangnya?” tanya sang istri, galak.
Lebih dari sekadar ice breaker, Deputy Medical Director Parkway Cancer Centre, dr. Khoo Kei Siong, sengaja menampilkan lelucon ini sebagai pengingat minimnya kesadaran wanita terhadap pentingnya pengecekan dini untuk memberantas kanker.
“Tahukah Anda,  80%-90% dari wanita pasien kanker payudara tidak memiliki riwayat penyakit ini di keluarganya. Bahkan, 70% di antaranya sama sekali tidak memiliki faktor risiko,” ungkap dr. Khoo, yang juga menjabat sebagai Konsultan Medis Senior untuk Onkologi di Parkway Cancer Centre.
Ucapan dr. Khoo ini seketika membuat ruangan yang hari itu merona dengan warna pink dari busana sebanyak 300-an peserta yang mayoritas wanita ini, hening. Ini artinya semua wanita berisiko terkena kanker payudara. Andai semua wanita menyadari pentingnya pengecekan dini, maka angka kasus kanker payudara tidak akan terus meningkat.
Dengan angka kasus tertinggi di dunia (43%), kanker payudara menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah kanker paru-paru (lembaga penelitian kanker internasional IARC, 2012). Di Indonesia, angka insiden kanker payudara mencapai 40 per 100.000 wanita (Riskesdas, 2013) dengan angka kasusnya mencapai 61.682 kasus.
Namun, dengan berbagai terobosan teknologi dan pengobatan, kini kanker bisa ditaklukkan, bahkan dicegah sebelum berkembang. Selain melalui pengecekan secara dini, seperti sedari dan mamografi, keberadaan sel kanker payudara juga bisa dideteksi melalui BRCA testing.
Menurut dr. Khoo, kanker berelasi dengan keberadaan gen BRCA, yaitu BRCA-1 dan BRCA-2 yang mengalami mutasi. Tes ini membantu deteksi awal dan mengetahui faktor risiko Anda terhadap kanker. “Melalui pemeriksaan darah, dapat diketahui apakah ada gen BRCA-1 dan BRCA-2 yang mengalami mutasi,” terang dr. Khoo tentang terobosan teknologi terkini yang dimiliki oleh Parkway Cancer Centre.
Mereka yang di dalam keluarganya memiliki riwayat kanker payudara dan ingin tahu seberapa besar faktor risiko yang dimilikinya, bisa melakukan BRCA testing. Apabila hasil tes positif, maka Anda bisa melakukan langkah-langkah lebih lanjut untuk memproteksi diri, misalnya dengan rajin melakukan screening kanker.

ANCAMAN TIGA BESAR

“Ada tiga kanker ganas yang sering mengancam wanita, yaitu kanker rahim, ovarium, dan serviks,” ungkap dr. Lisa Wong, spesialis ginekologi dari RS Mount Elizabeth, Singapura, di paruh ke-2 diskusi. Di antara ketiganya, kanker ovarium adalah kanker yang paling sulit terdeteksi,  sehingga sering disebut sebagai ‘silent killer’.
“Kanker ovarium atau indung telur biasanya terjadi pada wanita di atas usia 60 tahun dan sulit dideteksi karena tidak memberikan gejala sampai sel kankernya menyebar. Namun, jangan pula karena merasa diri masih muda dan sehat, Anda lalai mengenali sinyal-sinyal bahaya dari tubuh,” ungkap dr. Lisa.     
Perut terus-menerus kembung dan tidak berselera makan? Mungkin ini bukan sesederhana masuk angin, tapi bisa jadi ini tanda kanker ovarium. Perdarahan abnormal  di luar masa menstruasi (sebelum atau sesudah), keputihan yang berlebihan, nyeri di daerah panggul, bisa jadi ini  tanda-tanda bahwa Anda terkena kanker serviks! Bukannya  menakut-nakuti, tetapi bicara soal kanker, maka deteksi yang terlambat bisa berakibat maut.
    “Ketika semua keluhan itu Anda alami,  segeralah memeriksakan diri ke ginekolog. Jangan malu. Pengecekan dini, seperti pap smear, ultrasound scan, dan endometrial assessment juga sangat penting dilakukan dan metode ini tidak sakit!” ungkap dr. Lisa.
    Pemeriksaan seperti pap smear bisa dilakukan sejak usia 25 tahun pada wanita yang telah aktif secara seksual, dengan frekuensi pemeriksaan sekali dalam tiga tahun. Bagi mereka yang belum aktif secara seksual dapat memilih tes HPV dan vaksinasi HPV untuk perlindungan yang lebih lagi. Menurut dr. Lisa, vaksinasi HPV dapat mengurangi risiko serangan kanker  serviks  70%-80%.
    Pada beberapa kasus, kanker indung telur bisa diatasi dengan pengangkatan kandung telur yang diserang. Tidak dua-duanya, sehingga pasien masih bisa   memiliki anak. Namun, seperti yang berulang-ulang ditekankan oleh kedua dokter spesialis dari Parkway Hospitals ini, bahwa ‘losing is not an option’. Sebab, meski pengangkatan ovarium dan payudara bisa menurunkan sebaran sel kanker,   tetap saja memberikan dampak psikologis yang besar.
Lagi-lagi pilihan gaya hidup sehat dan pengecekan dini menjadi nasihat utama. “Terutama di tengah gaya hidup wanita muda sekarang yang  makin hectic. Mereka bekerja dalam waktu yang cukup panjang dalam sehari, dan menjalankan peran ganda sebagai ibu sekaligus wanita karier,” ungkap dr. Lisa. Banyaklah mengonsumsi sayuran dan buah-buahan segar yang kaya antioksidan. Menjaga berat badan, cukup olahraga dan tidur juga sangat penting untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Kanker Tidak Mengalahkan Saya!
Advertisement
Kisah dari Betty Rusli (pasien dampingan dr. Khoo Kei Siong), survivor kanker payudara stadium 2E

Awalnya Oktober 2014, ketika mandi, biasanya pakai spon, sehingga tidak terasa. Suatu hari saya mandi dengan sabun batangan. Saya merasakan benjolan di payudara sebelah kanan saya. Saya langsung diam selama satu jam, teringat mama saya yang juga terkena kanker payudara dan di sebelah kanan juga. Rasanya seperti mimpi, ada benjolan dan tahu-tahu sudah besar.
Satu bulan saya tidak ke mana-mana. Karena saya infeksi, badan saya semua bengkak. Di situ keluarga dan teman-teman bertanya, kenapa badan saya bengkak semua. Saya kemudian pergi ke dokter di Singapura. Saya ke dr. Chin di Mount Elizabeth. Tidak ada masalah dengan bengkak saya, itu semua karena infeksi di payudara saya. Kalau payudara saya sembuh, maka bengkak itu akan sembuh.
Kemudian saya disarankan untuk memeriksakan diri ke dr. Lui Sui Wong, dokter breast cancer di Mount Elizabeth. Di situ perjalanan saya dimulai. Saya melakukan cek darah, MRI, PET Scan, dan lainnya sampai akhirnya dilakukan mastektomi di payudara kanan. Hasil biopsi menetapkan bahwa saya positif menderita kanker payudara, yang diperkuat dengan MRI sehingga ketahuan bahwa kanker saya sudah stadium 2 E.
Karena benjolan saya besar, dr. Liu menyarankan saya ke dr. Khoo untuk melakukan kemoterapi untuk mengecilkan ukuran tumor. Di bawah pendampingan dr. Khoo, saya mulai melakukan kemoterapi  tiap 3 minggu. Saya menjalani 4 kali kemoterapi, masing-masing hanya 30 menit. Setelah kemoterapi pertama, bengkak saya hilang semua. Kalau menemukan benjolan, sekecil apa pun, jangan ragu-ragu, pastikan dengan memeriksakan diri ke dokter sebelum segala sesuatunya terlambat!

Tanya-Jawab Bersama dr. Khoo Kei Siong & dr. Lisa Wong

T: Saya seorang survivor kanker payudara stadium 3B dan telah melakukan operasi kanker payudara sejak tahun 1997. Namun, hingga kini bekas operasi sering kram. Apakah ini berbahaya?
J: Rasa sakit menusuk atau kram  di bekas operasi adalah hal normal. Jangan khawatir, ini juga bukan tanda sel-sel kanker yang kembali tumbuh. Hal ini terjadi karena proses operasi mengganggu beberapa saraf lain. Di kemudian hari menyebabkan gangguan seperti yang dikeluhkan. Hal ini bisa berlangsung dalam waktu 10, 20 atau bahkan sampai 30 tahun. Tapi, ini normal dan tidak berbahaya, dan akan  makin berkurang seiring waktu.

T: Saya survivor kanker payudara stadium 3B radikal mama, sehingga payudara kiri saya diambil. Apakah setelah melewati 13 tahun, ada kemungkinan sel kanker akan tumbuh dan menjalar ke rahim?
J: Kemungkinan penyebaran sel kanker setelah operasi sangat kecil. Apalagi setelah Anda berhasil melewati masa sembuh 10 tahun dan rajin kontrol. Kalau hasil kontrol negatif atau tidak terdeteksi, maka Anda tidak perlu khawatir. Lagi pula, sel-sel kanker payudara tidak akan menginfeksi bagian rahim. Ini hanya mungkin terjadi jika memang ada sel kanker baru yang tumbuh di bagian rahim. Sebagai upaya pencegahan, Anda harus rajin melakukan deteksi dini, salah satunya dengan pap smear.

T: Apakah ukuran payudara berpengaruh pada risiko seorang wanita terkena  kanker payudara? Sering saya dengar bahwa payudara berukuran besar lebih berisiko.
J: Ukuran payudara tidak berpengaruh pada  risiko seorang wanita terkena kanker payudara. Kanker muncul karena pertumbuhan sel yang abnormal, atau faktor genetis. Jadi, mereka yang berpayudara besar tidak perlu mengurangi ukurannya. Deteksi dini kanker payudara dengan mamografi juga tidak akan membuat ukuran payudara  makin kecil, atau mengakibatkan sel kanker makin menyebar.

T: Supaya tidak terserang kanker, suplemen atau vitamin apa yang harus saya konsumsi?
J: Sangat sedikit vitamin dan suplemen yang bisa menyembuhkan atau mencegah penyakit. Ini terlebih karena vitamin dan suplemen hanya berfungsi sebagai penambah nutrisi dalam tubuh kita. Sebagai pencegahan, tiap orang harus memiliki pola hidup dan makan seimbang. Membatasi konsumsi alkohol, selalu makan makanan yang  sehat, dan tidur  yang cukup.

Naomi Jayalaksana/Foto: Dok. Femina Group





 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?