Foto: Dok. Femina Group
Sarlito meraih gelar psikologi dari Universitas Indonesia pada tahun 1968. Beliau meraih gelar doktor dari UI dan University of Leiden, Belanda. Ia sempat menimba ilmu juga di Edinburgh University, Skotlandia dan meraih gelar Diploma in Community Development. Begitu kembali ke tanah air, Beliau sibuk terjun ke berbagai kegiatan akademis, bukan hanya sebagai dosen, tapi juga peneliti dan penulis. Bidang kajiannya beragam, terutama menyoroti masalah sosial, seperti soal Kementerian Kesejahteraan Rakyat dan Tabungan Rakyat Miskin (Taskin) pada tahun 1998 – 1999, tentang Keluarga Berencana (KB), anak jalanan, pemukiman, lalu lintas, sampai masalah terorisme baru-baru ini (2006 – 2009)
Sebagai dosen di Universitas Indonesia, ia mengajarkan mata kuliah antara lain Logika, Psikologi Perilaku Seksual, Psikologi Sosial, Psikologi Lintas Budaya di Indonesia. Almarhum juga mengajar Seminar Proposal Tesis, Teori-Teori Psikologi Sosial, Aliran-aliran dan Teori-teori psikologi untuk mahasiswa program pascasarjana, ia. Ia pernah pula menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi UI (1997-2004) dan Ketua Program Studi Ilmu Kepolisian (2007-2012) di Pascasarjana UI, hingga menjadi Guru Besar Ilmu Psikologi UI.
Beliau dipercaya menjadi Dekan Fakultas Psikologi Universitas Persada Indonesia YAI di perguruan tinggi tersebut. Selain itu, Sarlito sering diundang pula menjadi dosen tamu di berbagai universitas di luar negeri. Tahun 1996, ia menjadi guru besar tamu di Cornell University, Amerika Serikat dan Nijmegen University, Belanda. Plus di Victoria University, Selandia Baru (2007) dan University Malaya, Malaysia (2008).
Sarlito juga merupakan salah satu guru besar yang telah menelurkan banyak karya yang dibukukan, antara lain Pergeseran Norma-Norma Perilaku Sex (1980), Menuju Keluarga Bahagia Jilid I-IV (1982), Bengkel Keluarga “cetakan II” (1985), Psikologi Lingkungan (1992), dan Psikologi Sosial (1997). Penghargaan di bidang psikologi pernah juga diraihnya, yaitu Most Dedicated Psychologist dari International Council of Psychologists (2012), Outstanding International Psychologist dari APA Divisi 52 (2013), serta Lifetime Achievement dari Ikatan Psikologi Sosial pada tanggal 3 November 2016 lalu. Terkait penghargaannya yang terakhir, dikutip dari Gatra.com, Sarlito merasa sangat bangga dengan penghargaan tersebut sebab diberi oleh bangsanya sendiri. Sedangkan, dua penghargaan sebelumnya dari bangsa lain.
Psikolog senior ini juga mempunyai biro psikologi pribadi, Dr. Sarlito & Associate, yang ia dirikan untuk membantu orang lain mengatasi masalah mereka. Bagi Sarlito, dengan membantu orang lain tersebut, ia dapat juga belajar bagaimana mengatasi masalahnya sendiri.
Karena kepiawaiannya di bidang psikologi, Sarlito pernah diundang sebagai saksi ahli dalam kasus Jessica-Mirna baru-baru ini. Pada kasus tersebut, ia mengungkapkan pandangannya mengenai gerak-gerik Jessica yang terekam pada CCTV saat kejadian dari sudut psikologi. Hingga akhir hayatnya, beliau tetap rajin menyampaikan buah pikirannya. Terakhir, Sarlito menyampaikan pendapat mengenai isu penistaan agama yang menimpa gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama alias Ahok, melalui tulisan Mungkinkah Menistakan Agama?
Selamat jalan, Prof. Sarlito! (f)
Baca juga:
- Kasus Jessica Wongso dan Vonis 20 Tahun Menyedot Perhatian Publik
- Selamat Beristirahat Ibu Pejuang Pers Nasional Herawati Diah
Topic
#sarlitowirawan