Foto: Stocksnap.io
1. Di banyak negara, adanya faktor tabu, kemiskinan, dan fasilitas sanitasi tidak memadai, dan pendidikan kesehatan yang kurang, membuat wanita belum memiliki akses pada hak asasi dasarnya, mendapatkan fasilitas berupa pembalut yang bersih, terjangkau, dan aman.
2. Menurut laporan UNICEF tahun 2015, di pelosok India, 1 dari 5 anak perempuan putus sekolah setelah menstruasi. Data Nielsen dan Plan India, dari 355 juta anak perempuan dan wanita dewasa, hanya 12 persen yang mengunakan pembalut bersanitasi.
3.“Masalah menstruasi tidak dianggap sebagai ancaman kematian, tapi menurut saya, ini isu penting karena mempengaruhi anak perempuan dan kepercayaan dirinya. Padahal kepercayaan diri adalah kunci untuk segala hal,” tutur Venkatraman Chandra-Mouli, ilmuwan WHO, seperti yang dilansir di Newsweek.
4. Isu klorin dan kandungan berbahaya pada pembalut, masih menjadi kontroversi yang belum terjawab, dan belum menjadi perhatian utama para praktisi kesehatan global.
5. Masih kurangnya edukasi mengenai kesehatan reproduksi, yang seharusnya sudah diberikan sejak anak usia sekolah.