Trending Topic
Memahami Bentuk Pelecehan Seksual di Dunia Kerja

9 Aug 2016


Foto: Fotosearch

Menurut Staf Khusus Menteri Tenaga Kerja, Dita Indah Sari, pelecehan di tempat kerja menjadi pekerjaan rumah yang tidak selesai bagi dunia ketenagakerjaan di Indonesia. Bahkan, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi membuat direktorat khusus mengenai antidiskriminasi, salah satunya menangani persoalan pelecehan karyawan di tempat kerja. “Pelecehan seksual itu dari fakta dan definisi sebetulnya tidak melulu soal seks. Namanya saja seksual, tetapi sesungguhnya soal power, soal kekuasaan,” ujar Dita.

Dalam masyarakat kita yang sangat patriarkat, wanita dalam banyak soal, terutama sosial dan kultural, posisinya memang di bawah pria. Akibatnya, kita melihat pelecehan seksual sebagai konsekuensi dari relasi kekuasaan yang tidak seimbang, sehingga banyak wanita yang sangat mungkin menjadi korban.
Di dunia kerja kemungkinan itu bisa tambah lagi. Karena di dunia kerja juga mengenal relasi atasan dan bawahan. “Sebetulnya, kalau atasan melakukan pelecehan atau tindakan tidak senonoh,  korbannya bisa bawahan wanita atau pria. Bila atasannya memang kacau, kepada bawahan laki-laki bentuk agresinya bisa memaki-maki, membentak-bentak, mendemotivasi di depan orang lain atau dalam bentuk fisik. Kepada bawahan wanita, bentuk agresinya bisa bernada seksual,” ujar Dita.
           
Sebetulnya, apa saja tindakan atau perlakuan yang dikategorikan pelecehan?
           
Menurut Dewi Candraningrum, Pemimpin Redaksi Jurnal Perempuan, bila kita mengacu pada berbagai literatur, tindakan yang disebut pelecehan seksual itu terutama dilandasi oleh dua hal: motif dan konteks. “Motifnya apa? Sudah pasti melecehkan,” ujarnya.

Untuk memahaminya, Dewi mencontohkan, ada ujaran-ujaran yang bisa netral karena saat diucapkan tidak dilandasi oleh motif melecehkan, misalnya kata janda atau cantik. Kata janda, ketika diucapkan memang untuk merujuk pada status seseorang, tentu saja tidak bisa dihakimi sebagai ujaran yang melecehkan. Namun, bila kata janda  diucapkan dengan motif untuk kesenangan seksual, maka orang yang mengatakan itu bisa disebut melecehkan.

“Pelecehan seksual itu berasal dari satu konsep keinginan merendahkan seseorang lain berdasarkan kategori seksual,” imbuh Dewi. Bentuk-bentuk pelecehan   bisa berupa ujaran yang melecehkan, sentuhan fisik atau nonfisik, terutama dengan sasaran organ seksual, termasuk siulan, main mata, ucapan bernada seksual, dan menunjukkan materi pornografi.

Baca: Lawan Pelecehan Seksual di Dunia Kerja 

Advertisement
Untuk lebih memahami konteks ini, kita sebaiknya tahu ada 15 penggolongan kekerasan seksual, yaitu pemerkosaan, intimidasi seksual, pelecehan seksual, eksploitasi seksual, perdagangan wanita untuk tujuan seksual, prostitusi paksa, perbudakan seksual, pemaksaan perkawinan (termasuk pernikahan dini, pernikahan anak), pemaksaan kehamilan, pemaksaan aborsi, pemaksaan kontrasepsi dan sterilisasi, penyiksaan seksual, hukuman yang berhubungan dengan seksual, praktik tradisi yang berhubungan dengan perbudakan seksual, dan kontrol seksual (misalnya soal baju).
           
Kalau melihat 15 bentuk kekerasan seksual ini, beberapa di antaranya bisa terjadi di tempat kerja. “Soal cara berpakaian misalnya, ada memang motif-motif untuk melecehkan. Misalnya, seragam pramugari yang harus memakai rok berbelahan tinggi. Padahal, kalau menilik tugasnya, pramugari harusnya berseragam yang praktis dan simpel. Dari aturan ini sebetulnya kita bisa melihat bahwa wanita tidak dilihat dari karyanya, melainkan dari tubuhnya,” ujar Dewi.
           
Meski, katakanlah, dengan seragam rok berbelahan tinggi, bukan berarti pemakainya bisa dilecehkan, bukan? Apalagi ketika mereka sedang menjalankan tugas profesionalnya. Karena, di lapangan, yang terjadi justru wanita korban pelecehan itu yang disalahkan. “Salah dia juga, sih, habis roknya pendek. Bajunya seksi.” Demikian komentar yang sering kita dengar ketika ada kabar mengenai pelecehan.
           
Padahal, namanya korban, tidak salah apa pun. “Kalau yang disalahkan bajunya, nenek pakai jilbab saja ada yang diperkosa. Jadi saya tegaskan, tidak ada kaitan tindakan pelecehan itu dengan baju karena hal itu dipengaruhi oleh motif, modus, dan aksi,” ujar Dewi.

Hal ini diakui oleh Lita Armenia (24),  pramugari salah satu maskapai nasional.  “Sebenarnya seragam pramugari maskapai penerbangan tempat saya bekerja bukanlah seragam yang terlalu terbuka, tapi terkadang saya menemui beberapa penumpang pria yang memandangi saya dengan tatapan yang genit. Dia bisa melihat saya dari atas sampai bawah dengan saksama,” ujarnya.
           
Dalam banyak kasus pelecehan, sering kali yang terjadi orang justru menghakimi si korban. Selain menyalahkan cara si korban berpakaian misalnya, juga sering  membuat si korban menjadi terdakwa. Misalnya lewat komentar, “Kamu godain bos kali? Atau kamu memberikan peluang kali?”

“Orang jadi tidak fokus untuk mengatasi masalah itu, tetapi justru mengatur diri korban agar tidak kena lagi perlakuan pelecehan itu dan membuat si korban  menjadi terdakwa dalam waktu yang bersamaan,” kata Dita. Inilah yang menurut Dita ada persepsi publik yang keliru sehingga membuat wanita menjadi sulit membawa kasus pelecehan terhadap dirinya menjadi isu yang harus diselesaikan.

Persoalannya, sikap menghakimi ini juga bukan monopoli kaum pria, karena ada juga sesama wanita yang memikili pemahaman serupa. Bukannya  mendukung si korban untuk melawan, mereka justru ikut menghakimi korban. “Ya, karena mereka mereproduksi ideologi yang sudah mengakar di masyarakat. Saya tidak setuju dengan tindakan itu. Tetapi, karena masyarakat kita masih seperti itu,  saya jadi bisa memahami  bahwa para wanita pun bisa bersikap seperti demikian. Karena itu, kita harus banyak melakukan edukasi untuk menghapus pandangan itu di masyarakat,” ujarnya. (f)


Baca Juga: Jangan Diam Saat Mengalami Pelecehan Seksual


 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?