Trending Topic
Laporan FGD: Cegah Gegar Budaya Digital

21 Apr 2016


Foto: Fotosearch

Pepatah lama: mulutmu, harimaumu, kini mulai berubah menjadi jarimu, harimaumu. Dunia saat ini memang berada dalam genggaman tangan Anda. Sayangnya, belum banyak yang menyadari bahwa budaya dan etika baru yang sepaket dengan perkembangan teknologi itu perlu dibangun agar tidak terus-menerus terjadi gegar budaya digital. Teknologi digital baru sampai pada tataran produk, belum menjadi sebuah pola pikir. Penggunaannya masih terbatas untuk hiburan, keterhubungan dengan lingkungan, dan mencari informasi.

“Tingkat kefasihan digital masyarakat di negara berkembang pada umumnya masih rendah karena belum ada upaya yang terstruktur dari pemerintah dan pebisnis atau korporasi untuk membangun budaya dan etika yang menyertai teknologi tersebut. Jangan hanya berpatokan pada kapitalisme untuk meningkatkan profit,” papar Firman Kurniawan.

Selain itu, kefasihan digital tidak bisa berjalan sendiri. Agar lebih unggul dalam karier, wanita juga harus menguasai kemampuan lain. “Wanita harus menyadari kekurangan dirinya untuk mengasah kemampuan. Jangan takut keluar dari comfort zone untuk mempelajari hal baru,” ungkap Neneng Goenadi.
Nia Sarinastiti menambahkan bahwa kemampuan berbahasa asing dan berkomunikasi secara strategis juga jadi faktor penting pendorong karier. “Globalisasi membuka akses kita ke seluruh dunia. Kalau tidak memahami bahasa asing, bagaimana kita bisa berkomunikasi dengan rekan kerja dari negara lain? Bagaimana kita bisa memahami informasi yang mereka berikan?”
Advertisement

Seperti menegaskan, Pemimpin Redaksi dan Pemimpin Komunitas Femina Media, Petty S. Fatimah, mengatakan, “Perusahaan juga harus berperan aktif meningkatkan kefasihan digital karyawan. Pembekalan bisa dilakukan dengan training secara berkala dan mengintegrasikan sistem digital ke dalam pekerjaan sehari-hari, misalnya dengan menggunakan cloud storage service Dropbox, aplikasi pencatat pekerjaan Evernote, dan aplikasi manajemen alur kerja Basecamp.

Peserta FGD mengakui, tingkat kefasihan digital mereka masih perlu dikembangkan. Dari skor 10, kelompok pertama melabeli diri  dengan skor kefasihan digital mereka secara keseluruhan sebanyak 7,5 – 8, sementara kelompok kedua sebanyak 7 – 8. Pada saat bersamaan, kelompok pertama meyakini bahwa skor kefasihan digital mereka untuk media sosial adalah 10, sementara kelompok kedua menilai skor media sosialnya 8 saja.

Peserta FGD mengharapkan perusahaan tempat mereka bekerja bisa memberikan pelatihan untuk mengasah hard skill maupun soft skill seperti pelatihan cara membuat dan mengunggah konten YouTube secara efektif, pelatihan bahasa asing, pelatihan negosiasi dan diskusi, pelatihan presentasi, serta manajemen pekerjaan. Selain itu, mereka juga mengharapkan sistem kerja yang lebih fleksibel, penghargaan dalam bentuk bonus finansial, outing untuk mempererat kerja sama tim, dan asuransi kesehatan.

Berbekal kefasihan digital dan keahlian tersebut, peserta FGD kelompok pertama optimistis bisa menjadi pemimpin dalam jangka waktu sepuluh tahun lagi. Sementara itu, kelompok kedua meyakini, mereka bisa menjadi lebih andal dalam menyelesaikan tanggung jawab pekerjaan.
 


Topic

#WanitadanTeknologi

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?