Foto: L'oreal
Hal ini juga terjadi di Indonesia. Pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia menempati urutan ketiga tertinggi di dunia, setelah India dan Brazil. Pertumbuhannya lebih dari 4% dan rata-rata surplus talent per tahun sebesar 1,5%. Namun, masih banyak perusahaan yang kesulitan mendapatkan atau mempertahankan tenaga kerja muda dengan kualifikasi yang tepat.
Beberapa tahun belakangan ini, profil karyawan yang dibutuhkan perusahaan mengalami perubahan. Mereka mengutamakan karyawan dengan kemampuan kerja global. “Perusahaan mencari tenaga kerja yang mampu multitasking, memiliki manajemen waktu yang baik, menguasai bahasa asing lebih dari 1, menguasai digital skills, kreatif, mampu berkomunikasi dengan baik, dan mobile,” papar Consulting Director Willis Towers Watson Lilis Halim, CCP, GRP, saat femina temui di media briefing bertema A Taste of L’Oreal (20/4), di Jakarta.
Pada saat bersamaan, kompetensi tersebut belum dapat dikuasai lulusan Indonesia secara merata. Menurut pakar pendidikan Indonesia Prof. Dr. Arief Rachman, MPd., hal itu terjadi karena kesalahan pola pendidikan 20 tahun lalu. “Anak-anak tidak diberikan pemahaman mengenai alasan untuk belajar. Mereka hanya diajarkan untuk lulus tepat waktu dan mengejar status.” Ini membuat lulusan saat ini kurang memiliki kemampuan untuk berpikir jauh ke depan dan lemah melihat konsekuensi.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga kerja dengan kompetensi global, L’oreal menyelenggarakan program A Taste of L’Oreal pada tanggal 18-20 April 2016. Program itu memilih 30 mahasiswa dari seluruh Indonesia untuk diberikan belajar tentang bisnis dan berkarier secara profesional. “Kami menyaring 1.500 pelamar dari seluruh Indonesia menjadi 30 mahasiswa. Program ini memberikan pelatihan soft dan hard competencies, kewirausahaan, paparan manajerial, dan studi kasus,” ujar Kepala SDM PT L’Oreal Indonesia Restu Widiati.