Foto: Dok. BukaLapak
Pendapatan para penjual online yang bergabung di marketplace ini rata-rata naik dua kali lipat setiap tahun. Sayangnya, menurut Ahmad Zaky, Pendiri dan CEO Bukalapak, 60% produk yang dipasarkan di BukaLapak masih produk dari luar negeri. “Ada 1,2 juta pelapak atau penjual online di BukaLapak, namun masih dalam skala usaha mikro. Sebagian besar masih berjualan sebagai usaha sampingan."
Indonesia memang masih jadi pasar barang-barang impor sejak dulu. Menurut Nining, UMKM sebagai produsen masih sering tersandung standarisasi produk saat harus masuk ke industri. “Begitu volume permintaan naik drastis, misalnya 1000 item, kualitas produk langsung menurun. Tak heran, banyak wirausaha yang memilih menjual barang jadi, bukan memproduksi sendiri.”
Agar naik kelas, UMKM butuh pendampingan dan akses ke pelatihan yang bersifat stratejik agar mereka bisa merencanakan bisnisnya dengan sungguh-sungguh, termasuk lewat kegiatan merangkul komunitas semacam Kopdar Akbar ini.
Baca juga:
Lewat pengembangan komunitas, BukaLapak melihat ada pola serupa koperasi yang dikembangkan oleh anggota komunitas ini. Para pelapak tidak hanya saling bertukar informasi tapi juga saling bertukar stok produk. Interaksi mereka sangat erat dan guyub. “Lewat berbagai pelatihan dan ajang sharing, kami berharap para pelapak bisa memenuhi ekspektasi masyarakat yang terus meningkat terhadap kualitas prima dalam layanan jual beli online dan mendorong konsumsi produk lokal,” tutup Ahmad Zaky. (f)
Topic
#PemasaranDigital