Trending Topic
Ketika Musim Mudik Tiba

25 Jun 2016


Foto: Fotosearch

Sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, Jakarta masih menjadi ‘gula-gula’ yang banyak menarik minat orang luar Jakarta untuk mencari nafkah. Hasil survei Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda) DKI Jakarta tahun 2014 menyebutkan bahwa jumlah penduduk Jakarta menyentuh angka 10 juta jiwa. Sebagian besar merupakan pendatang.

Hal ini tercermin dari arus mudik saat Lebaran yang menunjukkan bahwa sebagian besar atau 42% penduduk Jabodetabek mudik ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sisanya, 28% bergerak ke wilayah Jawa Barat, 3% ke Sumatra Barat, dan 2% menuju Sumatra Utara. Hanya 21% yang merupakan penduduk Betawi asli.  

Sebagai negara dengan jumlah penduduk muslimnya terbesar di dunia,  tiap menjelang Idul Fitri memang biasanya terjadi pergerakan migrasi besar perantau muslim kembali ke kampung halaman masing-masing. Wilayah Jabodetabek masih menjadi sentra hulu pergerakan migrasi terbesar. Pergerakan arus migrasi kembali ke kampung halaman ini dikenal dengan istilah mudik (inti kata mudik sendiri berasal dari kata ‘udik’ yang artinya kampung).

Sosiolog perkotaan dan peneliti di LD FEUI, Dr. Chotib Hasan, menjelaskan bahwa tradisi mudik sebetulnya telah mengakar dalam peradaban manusia sejak manusia itu lahir. “Sebab, sudah menjadi fitrahnya manusia akan cenderung mencari asal-muasalnya atau kembali ke pangkuan ‘ibu pertiwi’,” cetusnya. Meski banyak dilakukan menjelang Lebaran, mudik bukanlah tradisi Islam.  “Mudik dilakukan juga oleh semua orang yang merantau dan pulang kampung, sesuai dengan arti katanya,” lanjut Dr. Chotib.

Menurut Psychotherapist & Life Coach dari MS CLINIC, Monika Kumalasari, arti mudik sendiri sangat positif bagi keeratan keluarga. Apalagi mengingat kesibukan hidup di kota besar terkadang membuat waktu berinteraksi dengan keluarga sangat terbatas. Jika memungkinkan, mudik akan lebih baik jika dilakukan bersama keluarga besar.  

“Apabila orang tua tak pernah membawa anak mereka ke tanah asalnya, bisa jadi hubungan persaudaraan dengan kerabat lain, termasuk di kampong, terputus. Karena, begitu orang tua tak ada lagi, anak-anak bisa tak lagi meneruskan tradisi mudik karena tak kenal kerabatnya,” kata Monika.
 
Meski bisa dilakukan kapan saja, mudik di Indonesia sering kali dikaitkan dan identik dengan perayaan hari raya umat Islam. Ini disebabkan karena luapan arus mudik terbesar selalu jatuh pada bulan Ramadan, terutama H-4 sampai dengan H-7.  Tak heran jika kemudian tradisi mudik ini mengakar di masyarakat kita sebagai bagian dari aktivitas yang dilakukan dalam menyambut hari raya.

Banyak orang rela terjebak macet atau membayar tiket dengan harga berlipat demi bisa pulang kampung di bulan Ramadan. Tak afdal rasanya jika Lebaran tak pulang kampung, begitu pendapat kebanyakan orang.
           
“Mudik saat Lebaran membuat kami bisa bertemu dengan sanak saudara dan teman-teman lama di kampung yang juga merantau,” kata Fanessa Marsyid, yang rela menempuh perjalanan darat selama 36 jam dari Jakarta ke kampungnya di Koto Gadang, Bukit Tinggi, Sumatra Barat.
           
Fanessa mudik tidak hanya untuk Lebaran. Berasal dari keluarga berlatar belakang budaya Minang, ada banyak sekali upacara adat ataupun pertemuan keluarga besar seperti pernikahan dan pemilihan ketua adat. Menariknya, Nessa mudik tidak hanya bersama keluarga intinya, namun berombongan dengan keluarga besar hingga dengan orang sekampung yang tak dikenalnya.  
Advertisement
            “
Sejak kuliah saya ikut organisasi Kanti Gandano, perkumpulan anak muda Koto Gadang. Tiap Ramadan selalu diadakan ‘mudik basamo’. Siapa saja boleh ikut dengan membayar tarif yang telah ditentukan,” kisahnya. Sejak tahun 1987, terhitung sudah 4 kali ia ‘mudik basamo’  menggunakan bus sewaan dan kapal laut.
           
“Seru banget bisa pulang bersama. Siksaan akibat terjebak macet  atau jarak tempuh yang jauh justru dimanfaatkan untuk mengakrabkan diri dengan anggota keluarga besar lain yang jarang bertemu atau orang sekampung yang baru dikenal,” katanya. Dalam tradisi Minang, meski tak sedarah, asalkan berasal dari kampung yang sama, sudah bisa dianggap sebagai ‘saudara’ juga. Perjalanan ‘mudik basamo’ akhirnya jadi menambah ‘saudara’ baru.  
           
Meski periode mudik Lebaran biasanya sudah dimulai sejak H-10, ada sekelompok orang yang lebih memilih pulang kampung sebulan sebelum Lebaran atau begitu memasuki bulan Ramadan. Misalnya kebiasaan yang dilakukan banyak pemilik rumah makan Padang yang meninggalkan kota perantauan sejak sebulan sebelum Lebaran.

“Bisa jadi karena suku Minang termasuk suku yang menjunjung tinggi nilai religius sehingga mereka memang sengaja ingin menjalankan ibadah (puasa) di kampung halaman atau bisa  juga mereka mempertimbangkan usaha rumah makan di bulan puasa pastinya sepi sehingga memilih beristirahat di kampung saja,” jelas Dr. Chotib. Pulang kampung jauh-jauh hari bisa menguntungkan karena terhindar dari tuslah (toeslag) atau kenaikan harga tiket menjelang hari raya yang ditetapkan pemerintah.  
           
Di balik euforia pulang kampung rame-rame, persoalan transportasi ternyata masih menjadi momok. Apalagi jika mudik dilakukan dalam rombongan besar dan dilakukan menjelang Lebaran di mana terjadi lonjakan tinggi penumpang karena semua orang serentak pulang kampung. “Orang akhirnya banyak yang lebih senang mudik dengan kendaraan pribadi karena keterbatasan seat transportasi publik, menghindari ketidaknyamanan, dan tuslah sebesar 25% yang ditetapkan pemerintah,” kata Dr. Chotib. Hal ini terungkap dalam Survei Arus Mudik Balik Lebaran 2012 LD FEUI.

Keuntungan lain membawa kendaraan pribadi (atau menyewa bus) bagi yang mudik secara berombongan adalah fleksibilitas, sehingga bisa istirahat kapan saja saat mulai lelah dan memiliki jadwal keberangkatan/kepulangan yang lebih fleksibel. Apalagi kini, ajang mudik keluarga tak hanya untuk beribadah atau berlebaran, tapi juga bergeser menjadi momen rekreasi bersama sekeluarga. Banyak pemudik menyelipkan agenda rekreasi di sela perjalanan menuju kampung halaman.

Hal ini sering dilakukan oleh Tanika Tamaputri. Tiap tahun ia selalu menyempatkan mudik dari Jakarta ke Malang. Tiap kali mudik, Tanika biasanya menghabiskan waktu 2 hari di perjalanan dengan  menginap semalam di Solo. Ia menggunakan 2 -3 mobil untuk konvoi bersama keluarga besarnya. Namun, 5 tahun lalu ia sengaja menyewa bus pariwisata karena ingin sekalian berwisata.

“Kami sengaja menyewa bus karena momen ini ingin kami gunakan sebagai liburan juga. Jadi, tak ada yang kelelahan karena harus menyopir sepanjang pejalanan,” katanya. Bahkan, om dan tantenya yang berdomisili di Bandung sengaja datang ke Jakarta untuk bisa berangkat bersama Tanika dengan bus yang telah disewa.   

Tak jarang, usai berlebaran di Malang, Tanika sekeluarga meneruskan perjalanan hingga ke Bromo atau Bali untuk liburan. “Mumpung waktu liburnya lama dan barengan, jadi kami manfaatkan sebaik-baiknya waktu libur ini untuk ziarah, merayakan Lebaran, sekaligus wisata untuk refreshing,” cetus Tanika.
Memang, banyak keluarga, baik muslim maupun non-muslim, memilih mudik  saat menjelang Lebaran, karena memanfaatkan cuti nasional yang bisa lebih dari seminggu. “Ini jadi kesempatan bagi keluarga untuk bisa sekalian berlibur bersama ke luar kota,” jelasnya.

Yang terpenting, saran Monica, jika akan melakukan perjalanan beramai-ramai harus ada persiapan yang matang dan disepakati sejak awal mengenai itinerary perjalanan. “Tak boleh egoistis. Memberi ruang bagi masing-masing anggota keluarga itu penting sehingga tiap orang merasa nyaman dan keinginannya terpenuhi,” katanya. Misalnya saja, jika membawa anak atau keluarga yang sudah sepuh, maka perjalanan harus sering mengambil jeda untuk istirahat atau mampir di tempat-tempat yang menarik minat anak. (f) 
 


Topic

#PuasadanLebaran

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?