Di Tanah Air, film yang diproduseri dan disutradarainya, Pengepungan di Bukit Duri, meraih Piala Citra terbanyak awal Desember lalu.
Kini, di luar negeri, tepatnya di Prancis, Joko Anwar meraih penghargaan kehormatan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres atau Chevalier (Knight) of the Ordre des Arts et des Lettres dari Pemerintah Prancis.
Penganugerahan tersebut berlangsung dalam sebuah upacara di Gedung Kementerian Kebudayaan Prancis, Paris, pada 11 Deember 2025.
Penghargaan prestisius ini diberikan sebagai bentuk pengakuan atas dedikasi, kontribusi, dan komitmen Joko Anwar dalam dunia sinema, yang dinilai telah memberikan dampak signifikan tidak hanya bagi perfilman Indonesia, tetapi juga bagi lanskap sinema global.
Jokan, sapaan akrabnya oleh media dan penggemar, mendapatkan pengakuan artistik dan komersial untuk film-filmnya selama dua dekade berkarya dari berbagai belahan dunia (sejak Janji Joni, 2005).
Karya-karya Jokan membuktikan bahwa kualitas dan popularitas bisa berjalan bersama–film-filmnya mendapat sambutan hangat di berbagai festival bergengsi sekaligus mampu mencetak box office di sejumlah negara.
Penghargaan Chevalier de l’Ordre des Arts et des Lettres ini disematkan langsung oleh Menteri Kebudayaan Prancis, Rachida Dati, yang dalam sambutannya menyoroti pendekatan khas Jokan dalam berkarya.
Rachida Dati mengatakan bahwa Joko Anwar telah menunjukkan bagaimana sinema dapat menjadi medium yang sangat aksesibel bagi penonton luas, dengan memanfaatkan genre sebagai pintu masuk, namun tetap membawa muatan sosial dan isu-isu penting di dalam masyarakat.
“Dedikasi dan komitmennya telah berkontribusi pada kemajuan perfilman Indonesia, sekaligus memperkaya dialog sinema dunia,” ujar Rachida Dati.
Sepanjang sejarahnya, tanda kehormatan ini telah diberikan kepada sejumlah tokoh berpengaruh dunia, termasuk Martin Scorsese, David Lynch, Tim Burton, Pedro Almodóvar, Isabelle Huppert, Meryl Streep, Cate Blanchett, Tilda Swinton, David Bowie, serta Hayao Miyazaki.
Dalam pidato penerimaannya, Jokan menyampaikan rasa terima kasihnya kepada Pemerintah Prancis serta menyampaikan refleksi atas perjalanan kreatifnya sebagai pembuat film yang tumbuh dan berkarya di Indonesia. Jokan juga menjelaskan pendekatannya dalam berkarya.
“Melalui cerita-cerita yang dibungkus dalam horor, thriller, atau komedi, saya berusaha membicarakan hal-hal yang sering kali sulit dibicarakan secara langsung; tentang ketidakadilan, tentang kekuasaan, tentang manusia dan lingkungan tempat ia berpijak,” kata Jokan.
Ia juga menambahkan bahwa banyak karyanya lahir dari kegelisahan terhadap isu-isu sosial dan ekologis, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa sinema populer agar dapat menjangkau lebih banyak penonton.
Penghargaan ini datang di tengah persiapan Joko Anwar merilis film terbarunya, Ghost in the Cell, yang dijadwalkan tayang pada tahun 2026. Film ke-12 Jokan yang dibintangi antara lain oleh Abimana Aryasetya, Lukman Sardi, Morgan Oey, dan Tora Sudiro itu adalah horor-komedi berlatar kehidupan di penjara dan mengangkat isu kerusakan lingkungan, kekuasaan, dan tanggung jawab moral.
“Ghost in the Cell adalah bagian dari percakapan yang sama yang selama ini ingin saya bangun lewat film-film saya,” ungkap Joko Anwar. “Menggunakan genre untuk menghibur, tetapi juga untuk mengajak penonton berpikir tentang dunia tempat kita hidup.”
Yuk, nonton lagi beberapa film ikonik karya salah satu kesatria Tanah Air untuk sinema dunia ini: Janji Joni (tonton di Vidio), Pengabdi Setan (Netflix), dan Pengepungan di Bukit Duri (Prime Video).
Selamat untuk Joko Anwar! (f)
Baca juga:
Selamat! Kebaya Kini Resmi Jadi Warisan Budaya Takbenda Dunia dari UNESCO
BinJin Couple Menang Bareng di Blue Dragon Film Awards 2025
Pangku Jadi Film Terbaik di FFI 2025, Pengepungan di Bukit Duri Raih Piala Citra Terbanyak