Foto: Stocksnap.io, Fotosearch
Yang lebih mengkhawatirkan, untuk mendapatkan narkoba kini tak lagi hanya mengandalkan pengiriman dari luar negeri. Tahun 2013, BNN menemukan 35 hektare ladang ganja di kaki Gunung Seulawah, Aceh. Beberapa jenis narkoba psikotropika seperti sabu-sabu dan ekstasi juga sudah bisa diproduksi sendiri di dalam negeri. Pabrik-pabrik narkoba skala besar menjamur di kota-kota besar di Sumatra, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi, dan kini mulai merambah ke kota-kota kecil juga.
Salah satu penemuan fenomenal adalah terlacaknya pabrik ekstasi terbesar di Asia milik warga negara Belanda kelahiran Papua, Ang Kim Soei (salah seorang yang dieksekusi mati Januari lalu), tahun 2002. Pabrik yang berlokasi di Cipondoh, Tangerang, ini bisa memproduksi 150.000 pil ekstasi per harinya dengan omzet yang mencapai miliaran rupiah per bulan.
Tahun 2010 polisi pernah menemukan laboratorium ekstasi di daerah Sunter, Jakarta Utara, sekaligus modus penyelundupan baru. Pabrik yang dikendalikan warga negara Afghanistan ini mengolah narkoba cair yang diresapkan ke handuk untuk dikristalisasi.
Dalam menyelundupkan paket narkoba tersebut ke Indonesia, 80% menggunakan jalur laut. Sisanya melalui jalur udara dan darat. Negara Indonesia yang terdiri dari wilayah kepulauan tersebut memang memiliki 200 pintu masuk melalui jalur perairan.
Tak berlebihan jika dikatakan Indonesia menjadi surga bagi pelaku narkoba. Jumlah penduduk yang banyak, geografisnya yang berupa negara kepulauan, dan lemahnya pengawasan serta hukum yang selama ini seperti tertidur, membuat Indonesia menjadi ladang subur para gembong mafia internasional untuk mengendalikan bisnis mereka di Indonesia.(f)