Bukan cuma cerita horor supranaturalnya yang membuktikan kalau manusia bisa lebih kejam daripada iblis.
Sinematografi drama ini juga indah—perbedaan warna di tiap mood dan intensitas drama—sampai chemistry yang “chemistrying” antara Nam Joo-hyuk (Gu-cheon) dengan Roh Yoon-seo (Putri Saeng-gang).
Tanpa banyak kata, karakter Gu-cheon dan Saeng-gang dalam The East Palace mendefinisikan ulang cinta sejati. Kira-kira, bisa nggak kita terapkan di kehidupan nyata, di era modern ini?
1/ Saling dukung
Meski nggak ada kata-kata, gestur Gu-cheon dan Saeng-gang diterjemahkan oleh para penonton sebagai bentuk cinta. Meski kadang mereka terlihat seperti kakak-adik, tapi tindakan keduanya, sih, pastinya bentuk cinta romantis.
Keduanya saling dukung dalam menyelidiki misteri dan rahasia di balik tewasnya para putra mahkota. Cara Gu-cheon mengajari Saeng-gang beberapa keterampilan dan bagaimana Saeng-gang membela Gu-cheon di depan Raja dan Ibu Suri sudah menunjukkan kelasnya tersendiri.
2/ Aksi yang bicara
Nggak ada ciuman, ucapan mesra, tapi tatapan Gu-cheon dan pelukan erat Saeng-gang sudah mengatakan segalanya.
Cara Gu-cheon melindungi Saeng-gang serta bagaimana Saeng-gang merawat Gu-cheon juga levelnya beda banget dengan cinta monyet.
IRL: Pastinya bisa, asal sabar dan percaya cinta sejati itu kadang slow burn.
3/ Rela berkorban nyawa
Bicaranya mudah tapi dibuktikan secara nyata—baik Gu-cheon maupun Saeng-gang rela mengorbankan nyawa mereka untuk satu sama lain.
Bahkan Gu-cheon rela jadi ak-gwi alias roh jahat tingkat iblis yang lahir dari kebencian ekstrem dan memakan jiwa manusia demi menyelamatkan Saeng-gang. Kalau bukan cinta sejati, apakah namanya kerandoman bucin ini....
IRL: Berat banget, dan kayaknya kamu perlu waktu lama—nggak seperti hubungan Gu-cheon dan Saeng-gang yang baru berjalan sebentar—untuk menerapkan poin 3, walaupun bisa saja cinta kamu dan dia sama-sama cinta sejati. (f)
Zornia Harisantoso
Topic
#koreancorner