Trending Topic
Basa- basi Itu Penting, Tapi...

5 Feb 2016

 
Reni (29) dan Cynthia (29) adalah 2 sahabat lama. Belasan tahun tak bertemu, keduanya kembali lagi bersua di acara reuni SMA. Untuk mencairkan kekakuan, Reni pun mencoba berbasa-basi, “Wah, kamu sekarang ‘lebih besar’, ya. Beda banget dengan SMA dulu.” 
 
Komentar Reni ditanggapi negatif oleh Cynthia yang tengah berdiet mati-matian. Maksud hati Reni mencairkan suasana justru dianggap lancang oleh Cynthia karena buatnya masalah berat badan adalah hal yang sensitif. Bukannya mencairkan suasana, Cynthia malah merasa tak nyaman dan tersudut.
Tanpa kita sadari, basa-basi adalah bagian dari cara kita berkomunikasi dengan orang lain. “Apa pun bentuk dan caranya, we communicate because we want to get what we want. Kita berkomunikasi pasti untuk mencapai keinginan. Entah tujuannya agar orang lain menyukai kita, mendapatkan pengakuan dari lingkungan sekitar, atau mencairkan suasana,” terang Mellissa Grace, psikolog dari Personal Growth, Jakarta. Seperti niat Reni yang sebenarnya ingin mencairkan kekakuan setelah belasan tahun tidak berjumpa dengan Cynthia, teman lamanya. 
 
Basa-basi, menurut Mellissa, merupakan bagian kecil dari komunikasi. Dan, di Indonesia, sangatlah wajar ketika ada orang yang menanyakan status kita: menikah atau tidak, maupun mengomentari perubahan bentuk tubuh maupun warna kulit. 
 
  Ini jelas berbeda dengan di negara maju seperti di Amerika maupun Eropa yang tidak menjadikan masalah pribadi sebagai bahan obrolan dan basa-basi. Tak hanya di negaranya, tapi juga mereka yang tinggal di sini. Status perkawinan, usia, bentuk tubuh, maupun warna kulit adalah urusan paling personal  tiap orang dan tidak etis untuk dipertanyakan. Bila kita tetap memaksa bertanya, menurut Mellissa, maka mereka pasti akan menjawab: ‘Its not your business’. 
 
Mellissa menegaskan, kebiasaan orang Indonesia itu tak luput dari jati diri sebagai negara demokrasi. Hal itulah yang membuat masyarakat Indonesia memiliki kebebasan berbicara, bersuara, dan berpendapat. “Yang menjadi masalah, tak semua orang paham benar konteks dan konten yang sedang ia bicarakan, termasuk ketika berbasa-basi dengan orang lain,” ujar Mellissa. 
Memang, ada perbedaan gaya dan ekspresi masyarakat yang tidak saling memahami. Ekspresi tertentu seperti menanyakan status pernikahan atau mengomentari kegemukan, oleh beberapa orang  dianggap sebagai bentuk kepedulian. Namun, menurut Bagus, tak sedikit pula orang yang menganggap ekspresi tersebut sebagai hal memalukan.  
 
“Dari riset yang saya lakukan, nilai-nilai moral dasar di Indonesia tidak berubah. Namun, ungkapan dan gaya bertingkah lakulah yang berubah, terutama pada generasi muda,” ujar Bagus.
Advertisement
 
Namun, terlepas dari efeknya yang bisa menyakiti perasaan orang lain, Mellissa menegaskan, tidak ada orang yang berbasa-basi dengan niat ingin ngajakin berantem. Terlebih lagi, ada saat-saat yang membuat kita ‘mati gaya’ dan tidak mengerti apa yang harus diucapkan ketika berada di tempat umum. Alhasil, ungkapan, pertanyaan, maupun komentar yang keluar pun asal bunyi saja.
 
“Tiap orang memang berhak berbicara, berkomentar, berpendapat, dan berbasa-basi. Dan, kita pun memiliki hak penuh untuk memilih cara merespons  ketika pertanyaan maupun obrolan yang terjalin sudah mulai mengarah ke life shaming,” ujar Mellissa. (f)
 



 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?