Trending Topic
Baca 5 Tanda Anda Sebenarnya Butuh Pengakuan

8 Nov 2016


Foto: Fotosearch

Entah kenapa, kita sering mengandalkan orang lain untuk memberikan rasa aman pada diri sendiri. Buktinya, nih, kita sering minta pendapat sahabat mengenai baju yang akan kita beli. Begitu sahabat setuju, barulah kita lebih pede untuk membayar baju tersebut. Itu baru contoh sederhana aja. Di dunia kerja, situasinya lebih rumit lagi, soalnya ada orang yang punya ‘kebutuhan berlebihan’ terhadap rasa aman sehingga menjadi sosok yang haus pujian dan gila hormat. Merasa familier? Simak penjelasan psikolog Rima Olivia, nih.

Haus pengakuan
Menurut Rima, ada dua kemungkinan bila seseorang sangat menginginkan pujian dan haus rasa hormat. Pertama adalah kebutuhan akan rasa aman yang berlebihan untuk diterima dan diakui.

“Selain itu, ada kemungkinan disebabkan oleh kepribadian yang inferior sehingga secara ‘instan’ merasa superior. Kalau orang nggak pede lalu dipede-pedein, kan, jadinya belagu.”

Nah, si superior ini selalu butuh pengakuan bahwa dia lebih baik daripada orang lain. Dia akan selalu membandingkan dirinya dengan orang lain sehingga di titik tertentu juga hobi mengkritik orang lain yang dianggap ‘di bawahnya’.

“Si haus pujian atau gila hormat sebetulnya hampir sama. Keduanya memiliki 'kebutuhan berlebihan' terhadap rasa aman—kebutuhan untuk diterima dan diakui. Pujian juga merupakan ‘penghormatan’ dari orang lain dalam bentuk kata-kata,” kata Rima.
 
Ini sebabnya…
Nggak bisa disangkal bahwa pengalaman di masa lalu yang membentuk kepribadian seseorang. Sama halnya dengan kemunculan karakter inferiority complex dalam diri si gila hormat maupun sosok haus pujian.

“Sering kali pengalaman di masa lalu yang membekas atau mengajarkan bahwa dia baru diterima dan diakui oleh komunitasnya jika mendapat pujian atau diberi penghormatan. Misalnya, diberi undangan yang spesial, diperlakukan istimewa, hingga menggunakan fasilitas atau priviledge tertentu,” jelas Rima.

Advertisement
Di samping itu, pola asuh dalam keluarga juga ikut berperan dan menjadi ‘kepercayaan’ dalam benaknya.

“Mereka mungkin adalah orang-orang yang sangat jarang dipuji atau diperlakukan istimewa oleh orangtuanya. Dia perlu berusaha sangat keras agar diterima dan dianggap oleh orangtuanya.”

Berhubung pola ini terus berulang, dia akan selalu 'menuntut' pujian dan sikap hormat dari orang lain—di mana saja dan kapan saja.
 
Ingat, ingat!
Sayangnya hanya segelintir orang yang sadar bahwa harapan untuk memperoleh pujian dan penghormatan dari orang lain sebenarnya mengganggu lingkungan mereka. Rima bilang, kita pelan-pelan harus bisa memindahkan harapan pujian dari orang lain ke diri sendiri.

“Misalnya, soal ukuran keberhasilan, bukan dari apa yang ditargetkan orang lain. Kita perlu membuat ukuran sendiri dan menggunakan teknik self-talk atau berbicara kepada diri sendiri.

“Kita juga perlu membantu mengingatkan orang yang haus pujian maupun gila hormat bahwa teman terbaik dan terpentingnya adalah diri sendiri. Orang yang paling jujur menilainya adalah dia sendiri,” kata Rima.

Kita tetap bisa, kok, memberikan pujian dan perhatian saat teman membutuhkannya. Tapi, jangan lupa ingatkan agar dia juga ‘berkaca’ pada dirinya sendiri. Apakah dia sudah menyukai dirinya? (f)

Baca juga:
Kekasih Haus Pujian
Menjadi Atasan Lembut yang Dihormati
Miss Sensasional, Cari Pengakuan Lewat Sensasi


Topic

#pengakuan

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?