Foto: Pixabay
Viki, kakak almarhum menyebutkan bahwa Trio dalam kondisi sehat sebelumnya. Namun usai mendapatkan suntikan vaksin AstraZeneca, Trio mengalami beberapa gejala seperti demam, meriang, dan sakit kepala yang luar biasa.
Saat ini, pihak keluarga masih menunggu penjelasan dari pihak berwenang soal meninggalnya Trio. Belum dipastikan efek vaksin, Ketua Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) Hindra Irawan Satari, seperti dikutip dari kompas.com mengatakan, pihaknya belum mendapatkan cukup bukti untuk mengaitkan meninggalnya pemuda asal Jakarta dengan vaksinasi COVID-19 AstraZeneca.
“Komnas bersama Komda DKI sudah audit bersama pada Jumat yang lalu, dan internal Komnas kemarin sore menyimpulkan bahwa belum cukup bukti untuk mengaitkan KIPI ini dengan imunisasi, Oleh karena itu masih perlu dilakukan investigasi lebih lanjut,” kata Hindra dikutip dari laman resmi Kemenkes RI, Senin (10/5/2021).
Komnas KIPI adalah lembaga kredibel dan independen yang memiliki fungsi dalam mengawasi pelaksanaan vaksinasi khusus untuk kejadian ikutan pasca imunisasi. Hingga saat ini, berdasarkan data Komnas KIPI belum pernah ada kejadian orang yang meninggal dunia akibat vaksinasi COVID-19 di Indonesia. Dalam beberapa kasus sebelumnya, meninggalnya orang yang statusnya telah divaksinasi COVID-19 adalah karena penyebab lain, bukan akibat dari vaksinasi yang diterimanya.
Untuk diketahui bersama, vaksin AstraZeneca mulai dipakai untuk vaksinasi di wilayah Jakarta sejak Rabu (5/5/2021). Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta telah menerima alokasi 1,5 juta dosis vaksin COVID-19 AstraZeneca, yang akan segera didistribusikan ke berbagai fasilitas kesehatan di Ibu Kota.
Berikut beberapa fakta tentang vaksin COVID-19 AstraZeneca yang penting untuk Anda ketahui berdasarkan Surat Edaran Nomor: HK.02.02/II/841/2021 tentang Informasi Mengenai Vaksin COVID-19 AstraZeneca yang diterbitkan Kementerian Kesehatan melalui Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit. Surat edaran tersebut telah ditetapkan Plt Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit dr. Maxi Rein Rondonuwu tanggal 6 April 2021:
1/ Vaksin COVID-19 AstaraZeneca mendapatkan Emergency Use Authorization (EUA) dari BPOM pada tanggal 22 Februari 2021 dengan nomor EUA2158100143A1. Dalam hal ini BPOM telah menjamin bahwa vaksin AstraZeneca aman dan berkualitas.
2/ Sempat menuai kontroversi tentang kehalalan vaksin AstraZeneca, Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) kemudian menyatakan bahwa penggunaan vaksin AstraZeneca bersifat mubah (diperbolehkan).
3/ Tahap pertama vaksin AstraZeneca datang ke Indonesia pada 8 Maret 2021 sebanyak lebih dari 1,1 juta dosis vaksin. Pada tahap kedua 26 April, vaksin AstraZeneca yang tiba di Tanah Air mencapai 3,8 juta dosis vaksin.
4/ Vaksin telah didistribusikan ke beberapa kabupaten/kota di 7 provinsi, yakni Kepulauan Riau, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Utara, Ogan Komering Ilir, Jakarta dan Maluku, serta bagi TNI/POLRI di seluruh provinsi.
6/ Vaksin COVID-19 AstraZeneca adalah vaksin vektor adenoviral (rekombinan) yaitu mengandung virus flu biasa yang telah dimodifikasi sehingga tidak dapat bereplikasi/berkembang di dalam tubuh manusia, tetapi dapat menimbulkan respon kekebalan terhadap COVID-19.
7/ Vaksin tersebut diberikan kepada sasaran dengan usia minimal 18 tahun sebanyak dua dosis dengan O,5 ml setiap dosisnya secara intramuscular dengan interval 8-12 minggu dari dosis pertama.
8/ Berdasarkan rekomendasi WHO tanggal 16 Maret 2021 bahwa efikasi vaksin AstraZeneca terbaik didapatkan pada interval pemberian vaksin 12 minggu (76%).
9/ Beberapa kondisi yang menjadi kontraindikasi vaksin AstraZeneca adalah alergi terhadap vaksin/komponen vaksin dan riwayat alergi berat/syok anafilaksis pada pemberian dosis pertama vaksin AstraZeneca.
10/ Kejadian Ikutan Pasca Vaksinasi yang sangat umum terjadi (>10%) biasanya bersifat ringan yaitu pusing, mual, nyeri otot (myalgia), nyeri sendi (arthralgia), nyeri di tempat suntikan, kelelahan, malaise, dan demam. Namun apabila keluhan berlanjut, disarankan kepada peserta vaksinasi untuk segera menghubungi petugas kesehatan atau ke fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain informasi dari surat edaran Kementerian Kesehatan tentang vaksin Astrazaneca, perkembangan penggunaan vaksin ini di dunia juga cukup dinamis. Pada awal April lalu, Pengawas obat Uni Eropa menyatakan telah menemukan kemungkinan hubungan antara vaksin AstraZeneca dan trombosis sinus vena serebral (CVST), pembekuan darah otak pada vaksin yang telah menjalani uji klinis di Inggris, Brazil, dan Afrika Selatan ini. Disebutkan bahwa risiko kematian akibat COVID-19 jauh lebih besar daripada risiko kematian akibat efek samping yang jarang terjadi.
Akibat temuan tersebut, Denmark menjadi negara pertama yang memberhentikan penggunaan vaksin COVID-19 AstraZeneca. Beberapa negara di Eropa dan negara lain melanjutkan kembali vaksinasi dengan AstraZeneca. Beberapa di antaranya membatasi pada kelompok usia tertentu, yaitu mereka yang berusia di atas 50 atau 60 tahun. Brostrom mengatakan, studi bersama berdasarkan data kesehatan Denmark dan Norwegia memperkirakan bahwa satu dari 40.000 orang yang divaksinasi dengan suntikan AstraZeneca dapat mengalami komplikasi serius ini. Namun, tak ada kesimpulan secara pasti terkait usia dan jenis kelamin.
Lantas apa saja kandungan yang ada dalam vaksin yang diklaim memiliki nilai efikasi (efek perlindungan terhadap COVID-19) sebesar 63,09%? Melansir Reuters, salah satu anggota dari tim pembuat vaksin AstraZeneca dari Universitas Oxford, dr. Sean Elias mengkonfirmasi bahwa kandungan dalam vaksin virus corona ini tidak berbahaya karena volume yang digunakan hanya sebagian kecil. Beberapa kandungan juga sering ditemukan dalam banyak bahan makanan dan produk kesehatan lainnya.
Dilansir dari laman resmi Pemerintah Inggris, vaksin AstraZeneca buatan Oxford mengandung beberapa bahan sebagai berikut. Polysorbate 80 Ethanol L-histidine L-histidine hydrochloride monohydrate Sisodium edetate dihydrate Magnesium klorida heksahidrat Sukrosa Natrium klorida Air untuk suntikan Elias menambahkan, kandungan dalam vaksin AstraZeneca ini tidak berbahaya karena volume yang digunakan hanya sebagian kecil. (f)
Baca Juga:
3 Varian Baru Virus Corona Masuk Indonesia, Satgas Minta Masyarakat Patuhi Prokes
Jelang Libur Lebaran, Waspada Bahaya Varian Baru COVID-19
Tradisi Belanja Lebaran Jangan Memicu Klaster Baru
Faunda Liswijayanti