Di Asia, termasuk di Indonesia, dikenal istilah marrying up. Artinya, wanita mencari pasangan dengan status sosial atau pendidikan lebih tinggi darinya. Sebaliknya, pria akan memilih pasangan dengan status sosial dan pendidikan yang lebih rendah darinya.
Di era modern, istilah ini seolah luntur karena wanita sekarang juga berpendidikan tinggi. Kesempatan kerja bagi wanita pun lebih luas. Di kota besar, suami-istri sama-sama bekerja.
“Problem yang sering terjadi adalah walau istri sudah bekerja, suami masih berpikiran bahwa mengurus rumah tangga dan anak-anak menjadi tanggung jawab istri,” ungkap Nessi Purnomo, Psikolog Anak & Keluarga Rumah Sakit Panti Rapih Yogyakarta. Hal-hal remeh, misalnya suami tidak mau mencuci piring kotor, bisa menjadi masalah yang menyebabkan pertengkaran.
“Wanita yang mandiri secara finansial berharap suami juga ikut terlibat dalam mengurus rumah tangga,” tambah Nessi. Jika terus mendapatkan perlakuan yang menyudutkan, wanita dengan mudah mengakhiri pernikahan mereka, karena, toh, mereka tidak khawatir akan pemenuhan kebutuhan hidupnya. Terlebih lagi, kini penghasilan pria dan wanita bisa setara. Bahkan, tak jarang penghasilan wanita bisa lebih tinggi. Menurut Devie, ini bisa menjadi masalah dalam kehidupan pernikahan kaum urban.
“Suami kemudian merasa kurang berharga di mata istri, sebagian tidak terima istri lebih ‘berkuasa’ secara pendapatan. Ia menjadi tidak nyaman dengan dirinya sendiri dan membuat suasana tidak lagi harmonis,” ungkap Devie. Dampak yang akan terjadi, suami menjadi sering marah, stres di tempat kerja, dan yang paling parah bisa menyebabkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Jika saat ini banyak suami-istri yang harus bekerja demi mencukupi kebutuhan hidup yang tinggi, lain halnya dengan Fransisca Asti (27). Sejak masih berpacaran, suaminya, Hieronimus Moko Santoso (28), berpandangan bahwa wanita yang sudah menikah sebaiknya menjadi ibu rumah tangga, suami yang menafkahi segala kebutuhan.
Selama mereka pacaran, Moko selalu protes dengan jam kerja Asti yang sering hingga malam. Begitu pula dengan gaya berpakaian Asti yang cenderung santai. “Dia selalu komentar, kamu mau kerja atau mau main?” ujar Asti.
Sebagai anak yang dibesarkan oleh kedua orang tua yang bekerja, Asti merasa harus tetap bekerja setelah menikah. “Awalnya ia sempat meminta saya tinggal di rumah. Setelah beberapa kali kompromi, saya mengikuti sarannya: tidak mengambil pekerjaan yang menyita waktu, karena kami sepakat prioritas utama setelah menikah adalah keluarga,” ungkap Asti.
Nessi menjelaskan, pandangan Asti atau Moko, jika dipaksakan untuk diterapkan akan memicu konflik. Sebelum menikah, pria membawa pola lama dari keluarganya, wanita juga demikian. Idealnya, setelah menikah mereka membuat pola baru, yang bisa menjadi jalan tengah bagi mereka. “Misalnya, dengan bekerja secara online, sehingga tetap bisa bekerja, meski tetap berada di rumah,” ujar Nessi. (f)
Daria Rani Gumulya