Sex & Relationship
Kepungan Gadget dan Media Sosial Jadi Tantangan Pasangan Modern Sekaligus Pemicu Perselingkuhan

6 Mar 2018


Foto: Pexels

Istilah pelakor –perebut laki orang- bisa jadi menjadi istilah yang paling banyak dibicarakan belakangan ini. Bagaimana kita dibanjiri berita tentang suami yang tergoda wanita lain, dan si wanita ‘penggoda’ tidak merasa perlu menyembunyikannya. Bagaimana istri yang ditinggalkan blak-blakan curhat di media sosial sehingga persoalan rumah tangga yang privat pun menjadi persoalan publik. Bahkan, penghujung tahun 2017, ditutup dengan kabar mengejutkan dari mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang menggugat istrinya, Veronica Tan. Wajarlah kalau semua ini membuat sebagian orang pesimistis, sebegitu beratnya kah mempertahankan sebuah pernikahan saat ini?

Tidak bisa dipungkiri, hadirnya media sosial sedikit banyak mengubah relasi pribadi antar manusia, termasuk relasi pernikahan seakan menjadi tempat pasangan mengumbar kemesraan, bertengkar hebat, atau membongkar aib pasangannya tanpa malu-malu. Hal ini terjadi di semua lapisan masyarakat. 

Namun, meski sekilas orang bisa melihat jelas naik turunnya sebuah relasi suami istri di media sosial ini, sesungguhnya tak ada yang pernah tahu apa yang terjadi di balik ‘pintu’ rumah tangga masing-masing. Tapi yang jelas perkawinan masa kini memang menghadapi tantangan dan parameter yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Psikolog dan konselor pernikahan, Adriana S. Ginanjar mengakui, pasangan modern era kini menghadapi tantangan yang lebih beragam dibandingkan generasi sebelumnya. Misalnya, tak ada atau sulit memiliki quality time karena pasangan sama-sama sibuk, masalah dalam mengelola keuangan keluarga akibat biaya hidup tinggi hingga hadirnya media sosial dan perangkat gadget yang bisa memperkeruh komunikasi jika tidak pintar menyiasatinya.

Peribahasa mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, sungguh-sungguh terjadi.

“Jika masalah tersebut terus berlarut, ujung-ujungnya akan memengaruhi hubungan seksual dengan pasangan. Padahal seks itu penting dalam rumah tangga. Jika hubungan seks pasangan terganggu, masalah akan membesar,” papar Adriana lagi.

Ia menambahkan bahwa pada akhirnya yang diuji adalah kesetiaan pasangan yang bisa berujung perpisahan. Seperti Rama*, yang mengeluh beberapa tahun terakhir hubungannya dengan istri, Bela* tak lagi sehebat dulu. Keduanya sama-sama sibuk bekerja dan komunikasi mereka merenggang.

“Beda dengan dulu, pulang kerja masih semangat ngobrol atau mesra-mesraan. Kalau sekarang, pulang kerja sudah sama-sama lelah. Komunikasi biasanya terjadi hanya untuk bertanya ‘sedang di mana’, ‘pulang jam berapa’ atau bertanya tentang anak. Hanya hal-hal yang basic,” jelas Rama yang menuturkan bahwa komunikasi via pesan pendek justru lebih sering terjadi dibandingkan tatap muka.

Terlarut dalam hubungan pernikahan yang terasa ‘biasa’, mendorong Rama mencari ‘getaran-getaran’ romansa pada wanita lain, koleganya di kantor. Memang, ia tak pernah menganggap serius hubungan dengan wanita tersebut. “Hanya selingan saja, agar tidak bosan,” tutur Rama.

Ia pun berdalih bahwa yang penting, ia sudah memenuhi segala kebutuhan sang istri, mulai dari urusan rumah, membiayai keperluan sekolah S2, hingga membantu Bela ketika sedang membutuhkan bantuan mengerjakan pekerjaan kantor. “Boleh, dong, kalau sudah mencukupi semuanya, kita 'bersenang-senang' sedikit,” ujarnya, tertawa.

Sejauh ini, Bela tak tahu perselingkuhan Rama. Namun, ketika ditanya apakah berencana untuk bercerai, Rama berujar bahwa hal itu tak pernah terbersit dalam pikirannya. “Saya dan Bella itu sebetulnya cocok, karena sejak awal kami memang sepakat memberikan ruang pribadi bagi masing-masing untuk berkembang. Belum tentu saya bisa mendapatkan pasangan seide seperti ini bila berpisah darinya,” ujar Rama sambil mengatakan ia pun tidak bisa memprediksi apa yang akan dilakukan Bella andai perselingkuhannya ketahuan.

Kasus rumah tangga memang tak terduga. Seperti ketika publik mendengar Ahok menggugat cerai Veronica, publik begitu kaget. Keduanya selalu tampak sebagai pasangan harmonis. Bahkan, saat Ahok masuk penjara, Veronica menunjukkan dukungannya sepenuh hati. Kekompakan keduanya telah banyak menginspirasi pasangan lain.

Menjadikan mereka sebagai ‘relationship goal’ pasangan modern. Pasangan yang tampak baik-baik saja di permukaan, justru bergejolak di dalamnya. Hal sebaliknya juga dapat terjadi pada pasangan lain, yang tampak sangat menantang di luar, tapi mereka justru bisa menghadapimasalah-masalah relasi ini dengan sangat baik. Lantas, apa titik kritis bagi pasangan untuk tetap bertahan dalam pernikahan?
Advertisement

Tak Semudah Janji

Psikolog dari Northwestern University, Eli J. Finkel, dalam penelitiannya yang ia cantumkan dalam buku The All of Nothing Marriage: How the Best Marriage Work (2017), menyimpulkan bahwa bagi pasangan modern kehidupan pernikahan saat ini memang lebih berat. Menurutnya, hal ini disebabkan gaya hidup dan modernitas yang turut memengaruhi bagaimana seseorang melihat konsep pernikahan. Ada harapan yang tinggi bahwa pasangan akan mengizinkan mereka untuk ‘tumbuh’, seperti mengejar karier walau sudah menikah, melanjutkan sekolah meski menjadi ibu rumah tangga, atau tetap bekerja meski sudah memiliki anak, dan sebagainya. Harapan ini membuat banyak orang memercayakan pasangannya untuk dapat mengejar kepuasan diri dan ambisi pribadi. Sayangnya, inilah yang justru memberikan tekanan pada pernikahan.

Harapan terhadap pernikahan masa kini, menurut Adriana memang sudah berbeda. “Pada dasarnya, suami lebih ingin berperan sebagai imam/pemimpin. Sementara istri modern sekarang ini justru menginginkan sebuah relasi suami istri yang egaliter (sederajat),” tuturnya. Misal, jika suami dan istri sama-sama bekerja, tentu istri menginginkan peran mengasuh anak juga dibagi sama adil. Jika istri ikut membantu kebutuhan finansial rumah tangga dengan bekerja, mereka juga ingin lebih memiliki peran dalam mengambil keputusan di kehidupan pernikahan.

“Di satu sisi, masyarakat kita saat ini sudah cukup adil dalam pembagian peran di rumah tangga. Namun, hal ini tetap sulit dalam pernikahan yang masih menerapkan budaya patriarkat, dimana suami masih mengambil peran penuh sebagai pembuat keputusan. Kalau dulu kan istri nurut saja apa kata suami. Wanita modern zaman sekarang tidak lagi ingin seperti itu,” jelasnya lagi.

Kondisi ini diakui oleh Meity* juga menjadi ‘biang keladi’ atas segala pertengkarannya dengan Iko*, suaminya, yang telah terjadi kurang lebih tiga tahun terakhir. Meity yang telah menyelesaikan studi S3-nya di Belanda membuat Iko minder. Padahal, menurut Meity, ketika mereka menikah pada tahun 2014, suaminya tahu ia sudah S2 dan sedang mengajukan beasiswa untuk S3-nya. Terlebih pekerjaan Meity kini posisinya sudah level manajer di perusahaan asing, sementara Iko masih seorang staf keuangan sebuah perusahaan menengah.

Meity sesungguhnya tidak pernah bermasalah akan posisi karier suaminya. Karena, toh penghasilannya saat ini bisa menutup kebutuhan rumah tangganya. Ia tak pernah merasa keberatan harus menanggung porsi yang lebih besar dari kebutuhan keluarganya. “Sayang, cara berpikir suami saya dan keluarganya masih kolot. Menurut mereka, suami sebagai imam harus lebih tinggi dari istri, dalam berbagai aspek. Desakan dari keluarga suami tentang ‘kodrat wanita’ sebagai istri harus begini – harus begitu, membuat masalah semakin membesar,” tutur Meity yang mengeluh bahwa terkadang haknya bernegosiasi dalam berumah tangga dikesampingkan.

Belum adanya anak dalam pernikahan Meity dan Iko membuat hubungan keduanya cenderung tidak erat. “Mungkin akan jadi berbeda kalau kami punya anak yang bisa menjadi pengikat hubungan. Tapi kami berdua sulit punya anak. Tak ada anak, pekerjaan dan pendidikan saya dikambinghitamkan, dan suami yang merasa tersaingi. Habis sudah,” papar Meity yang tak pernah membayangkan pernikahannya akan kandas di tengah jalan.

Meity mengaku tidak bisa lagi membujuk Iko, hingga akhirnya pasrah ketika suaminya menalak cerai dirinya pada September 2017. “Akhirnya pasrah saja. Lagipula, pernikahan ini isinya cuma berantem hanya karena pendidikan dan pekerjaan saya. Saya jauh lebih bahagia dan bisa menemukan pria lain yang bisa menghargai saya,” cerita Meity yang hingga kini proses cerainya masih diurus di pengadilan.

Menurut Adriana, jika generasi sebelumnya nilai-nilai pernikahan dijunjung tinggi dan perceraian dianggap tabu – terlebih dengan status janda yang selalu dikonotasikan negatif – maka sekarang berbeda. Nilai pernikahan bukan lagi dilihat pada kesakralannya, tapi sejauh mana pernikahan tersebut dapat memenuhi ekspektasi kebutuhan atau kebahagiaan kedua pasangan.

“Artinya, jika pernikahan tersebut dinilainya tidak memuaskan dan banyak masalah, maka mereka akan berpikir untuk keluar saja dari pernikahan tersebut. Mereka akan berpikir, buat apa menghabiskan waktu dalam pernikahan yang tidak menyenangkan,” jelas Adriana.(f)

*) Semua nama responden disamarkan

Konsultan: Psikolog dan konselor pernikahan, Adriana S. Ginanjar

Baca juga:
4 Resep Bahagia untuk Anda yang Menikah dengan Sahabat
25 Cara untuk Memangkas Bujet Pernikahan – Part 2
7 Hal yang Harus Diketahui Pasangan Sebelum Menyiapkan Detail Pernikahan



Topic

#gadget

 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?