Foto: Fotosearch
Rayuan vs Kesungguhan
Sebagai penggemar novel percintaan dan film romantis, tentunya saya ingin pasangan sering-sering melancarkan aksi menggoda saya. Apalagi buku roman dan tontonan yang sudah saya lahap sejak masa ABG mengajarkan sejuta jurus untuk menggoda si dia. Tapi, kenyataannya saya berjodoh dengan pasangan hidup yang minus goda-menggoda dan segala hal yang berbau romantis.
Sewaktu masih pacaran, sebetulnya saya sudah tahu karakter suami lurus begitu. Dia sangat manly dan kaku, apalagi di depan wanita. Sering kali yang diobrolkan saat pacaran justru soal gerakan (waktu itu suami aktivis) dan politik. Wah, bukan impian saya banget, meski akhirnya lama-kelamaan saya menikmati juga obrolan itu.
Lalu, mengapa saya akhirnya menikah dengannya? Suatu hari, tumben sekali ia mengajak makan malam berdua. Di situlah ia mengatakan, “Saya suka kamu. Saya ingin jadian dengan kamu. Tapi, proyeksinya bukan pacaran. Saya ingin menikah.”
Semua teman saya bilang, orang seperti ini tidak bisa dianggap enteng. Saya harus serius dengan dia, dan melupakan soal romantisisme. “Yang penting komitmen dan kesungguhan. Itu yang lebih nyata daripada sekadar rayuan dan romantisisme,” begitu kata mereka, mendorong saya.
Ada benarnya juga. Dari yang saya amati, kebanyakan pria yang hobi merayu dan romantis, sering kali ujung-ujungnya gombal. Ini dari pengalaman pribadi dan teman-teman saya. Maka, soal minus rayuan dan aksi menggoda bukan big deal.
Hubungan kami akhirnya berlanjut ke pelaminan. Karena, saya melihat potensi dia untuk bertanggung jawab pada keluarga. Dia juga menghargai kebebasan pribadi. Tidak menuntut saya untuk melakukan kegiatan yang bikin saya bete, yakni memasak.
Itu cerita 13 tahun lalu. Sejak usia perkawinan menginjak angka 4, saya mulai meributkan lagi tuntutan romantisisme. Mungkin krisis percaya diri karena badan melar setelah melahirkan. Hubungan intim pun sering dipercepat untuk langsung ke menu utama. Lama-kelamaan resah juga. Segi nikmat itu hilang.
Urusan belanja saja rasanya tak puas tanpa jurus menawar plus merayu abang penjualnya, apalagi soal hubungan seks. Saya pun mulai mempertanyakan kadar cintanya kepada saya. Apakah masih sama? Kalau masih, bilang ‘I love you’, kok, cuma sesekali? Pelit amat, sih!
Di saat yang sama, saya juga punya rekan kerja yang bahkan sudah punya anak dua masih selalu penuh rayuan dan aksi menggoda dari suaminya. Baru tiba di kantor, SMS datang: “Honey, sudah sampai kantor? Sukses untuk meeting-nya. Ps: I love you.” Begitu makan siang, SMS datang lagi: “Jangan lupa makan, ya, Sayang.” Begitu pulang kantor ada lagi: “Hati-hati di jalan. Kangen kamu.”
Apakah suaminya manis sebatas kata-kata? Tidak. Perilakunya (ungkap teman saya) juga sangat memuja dia. Contoh kecil, jika anak menangis karena popoknya perlu diganti atau ingin susu, suaminya sigap mengurus. Bangun pagi, selain dicium dan dipijit, teman saya diberikan segelas susu hangat.
Bagaimana dengan kehidupan seks mereka? “Kata-katanya penuh pujian dan rayuan. Selalu ada foreplay. Cium dari ujung kaki sampai rambut. Setelahnya, kami sering mandi bareng. Suami yang menyiapkan bath tub dan menyabuni,” ujar teman saya, yang saya yakin tidak melebih-lebihkan. Sekali, saya sempat bertemu suaminya. Dia memang pria yang adore sekali kepada istrinya.
Wah, bikin iri. Akhirnya suatu kali saya mengatur kondisi untuk menginterogasi suami soal keengganannya merayu, sekaligus membujuknya untuk jadi perayu. Ini petikan pembicaraan kami:
“Pa, menurut kamu, badanku sekarang gemuk sekali, ya?”
“Kata ibuku, kalau bisa dikecilkan sedikit. Tapi menurutku, jika kamu tidak keberatan dengan tubuhmu, ya, tidak apa-apa. Namanya juga sudah melahirkan.”
“Oh, ya? (suhu langsung memanas). Ini sebabnya kamu tak pernah memuji, merayu aku lagi. Kamu juga jarang sekali gandeng tangan aku.”
“Lah, kamu kenapa harus digandeng?”
“Tidak ada apa-apa. Cuma akhir-akhir ini aku merasa seperti barang yang dulu ingin sekali kamu beli, lalu sesudah didapatkan, kamu letakkan begitu saja. Tak pernah kamu kagumi lagi, bahkan kalaupun retak dan berdebu, kamu tak peduli (mata pun berkaca-kaca).”
“Kamu ada-ada saja. Aku tidak merasa begitu. Buktinya kita masih ML (make love).”
“Ini bukan masalah ML. Wanita itu perlu dirawat emosinya. Perlu ada pernyataan cinta, lewat kata-kata, jalan berdua, sikap mesra, atau apalah yang romantis. Jadi merasa pede suaminya masih sayang.”
“Aduh, pusing. Okelah aku tidak merayu, tapi untuk kamu ketahui saja: bagi laki-laki untuk setia pada satu wanita itu sulit. Coba cek teman-teman kamu yang laki-laki, pasti kebanyakan sudah selingkuh. Dan, rata-rata orang yang begitu biasanya suka merayu!”
Suami marah, saya lebih marah lagi. Gara-gara pembicaraan itu saya sempat mogok bercinta. Tapi, hati boleh marah, tubuh terkadang berkhianat. Suami saya tahu itu. Sentuhan suami yang sengaja dibikin ekstra meluluhkan. Ah, tidak konsisten.
Enggan Menggoda karena...
Pembicaraan soal tuntutan rayuan itu sementara dibekukan. Iseng-iseng saya curhat ke beberapa teman soal sepinya suami merayu. Wah, saya pikir hanya saya korbannya. Dari 10 teman wanita dengan profesi beragam: ibu rumah tangga, wanita karier dan pengusaha, usia 30-40 tahun dan masa perkawinan antara 3 – 16 tahun, sedikit banyak mengeluhkan hal yang sama: suami terlalu lempeng.
“Dia dulu sering menghadirkan suasana romantis untuk menggoda saya. Sekarang tidak lagi. Apakah karena badan saya sudah berubah?” ujar teman yang menjadi community manager sebuah klub ini, tak pede. Kenyataannya, walaupun sudah melahirkan, body-nya masih keren.
Begitu pula seorang teman yang bekerja sebagai agen untuk properti. “Pernah saya nekat bicara agak menjurus disertai tatapan kinky, eh, suami malah ngomong begini, ‘Kamu kenapa? Jangan aneh-aneh begitu.’”
Tanggapan yang membuat teman saya sebal setengah mati. Jangankan merayu, dirayu pun tanggapannya malah mencurigai. Apakah ini khas pria Indonesia? “Bisa jadi. Saya dibesarkan tanpa romantisisme. Saya tak pernah melihat ibu dan bapak saya berpelukan, berciuman, apalagi saling menggoda. Belajar tentang hubungan seks juga dari film blue,” kata David Ryadi, yang memiliki usaha outbound training.
Padahal, tahu sendiri film blue. Tidak ada kegiatan yang memainkan imajinasi dan gairah. Hubungan seksual seperti adegan preman bertemu preman saingan di ujung gang. Ketemu, langsung bak buk, selesai.
Teman saya, Heru Purwo yang mengelola beberapa hotel di kawasan Puncak, juga berkomentar heran, “Setelah 16 tahun menikah, memangnya masih perlu menggoda? Bukankah sudah tahu sama tahu?”
Ya, aksi merayu supaya hubungan seks makin hot, pancing saya. “He…he…he… bisa jadi. Tapi, istri saya tak pernah meributkannya. Buktinya, hingga kini kehidupan seks kami baik-baik saja. Kami melakukannya minimal 3 kali seminggu. Lagi pula, bagi kami yang tinggal di daerah dingin, tanpa perlu rayuan, otomatis sudah mendekat sendiri,” lanjutnya.
Barangkali wanita memang banyak maunya. Ada tuntutan agar pasangan mau beraksi merawat keintiman lewat rayuan. Tapi di sisi lain, ketika para suami tumben-tumbennya melancarkan rayuan, tak sedikit wanita yang balik mencurigai. Adakah agenda tersembunyi di balik rayuan para suami lempeng?
“Jangan-jangan, ia punya dosa besar sampai-sampai kasih hadiah bagus dan jurus gombalnya dikeluarin,” tutur Sinta, yang pernah terheran setelah mendapatkan oleh-oleh hadiah kalung batu berharga dari suami plus pujian bentuk tubuhnya.
“Ah, paling-paling mau ngasih tahu akan lama dinas ke luar kota. Nggak mau rugi di ranjang,” ujar Yani, apatis.
Padahal, bagi pria lempeng, melontarkan rayuan atau ajakan bercinta bukan hal gampang. Sebetulnya mereka sudah mengumpulkan keberanian. “Kami juga ada rasa takut ditolak,” ujar Yudi.
Tak harus Berujung Seks
Bagi kebanyakan suami, ketika hubungan seks masih lancar --setidaknya seminggu sekali masih berjalan-- itu menunjukkan perkawinan mereka baik-baik saja. Kedua belah pihak dianggap merasa happy, terlebih jika minus pertengkaran. Aksi menggoda juga diartikan bagi kebanyakan pria lebih mirip foreplay.
Aksi yang merupakan pembukaan untuk menu utama hubungan intim. Padahal, bagi wanita, aksi menggoda itu lebih seperti aksi yang membangun rasa pede bahwa kita (istrinya) memang masih diinginkan suami, masih dicintai. Bukan sekadar hubungan seksual.
Anggapan seduction itu selalu mengarah kepada kegiatan intim, menurut Elaine Sciolino dalam bukunya La Seduction: How The French Play The Game Of Life, memang diyakini banyak orang. Tapi sebetulnya, tidak demikian. Setidaknya, orang Prancis meyakini itu. Seduction atau aksi menggoda itu sifatnya soft power yang bisa diwujudkan dalam banyak hal. Makanan yang disajikan dengan penuh cinta, pembicaraan menyenangkan, atau nonton DVD berdua sampai malam tanpa berujung hubungan intim, juga termasuk seduction. “Karena seduction itu bukan mementingkan tujuan akhir, melainkan prosesnya. Namun, dalam proses ini perlu melibatkan hati dan eye contact, bukan keterpaksaan,” tulis Elaine.
Jadi, jika memang kebanyakan pria tidak menghadirkan aksi menggoda, apakah sebagai istri, kita hanya pasrah? “Jangan, dong! Suami tidak menggoda, bukan berarti dia tidak senang digoda. Sebetulnya seru juga jika kita yang berinisiatif mencari-cari cara untuk menggodanya,” ujar Ida Aulia, seorang ibu rumah tangga, sambil tertawa.
”Saat anak-anak sudah tidur, dia sedang nonton TV, saya pakai baju yang memamerkan dada rendah. Saya beri dia kopi atau teh sambil menurunkan dada. Wah, senangnya melihat matanya langsung melebar,” tutur Ida, memberi satu rahasia kemesraannya.
Reyna Andari, seorang manager marketing, punya cara berbeda. “Saya suka berlama-lama berganti baju, sehingga begitu dia masuk, saya masih memakai under wear atau handuk yang sengaja dipakai minim. Bikin dia gregetan. Karena sudah terburu-buru mau pergi kerja, tapi disuguhi pemandangan seperti ini.”
Kembali kepada kasus saya, akhirnya saya introspeksi. Memang, suami irit sekali mengungkapkan kata dan aksi romantis yang membuat saya melayang. Tapi, jika saya punya masalah, dia mendengarkan dan membela saya. Dia bukan tipe pria yang hobi mengantar saya belanja atau pergi ke sana sini, tapi ia komitmen untuk mengantar dan menjemput saya bekerja dengan waktu yang tidak pernah ngaret. Dia tidak suka jalan-jalan, apalagi ke mal, tapi tidak menjadikan saya ikut terkurung bersamanya di rumah. Saya boleh ke mal atau ke kafe bersama teman hingga tengah malam.
Dia membaca karya sastra seperti dari Tolstoy dan Paulo Coulho, sementara di dekatnya saya membaca novel seri Harlequin, tapi dia tidak mengejeknya. Aksinya mungkin bukan menggoda, tapi membuat saya nyaman bersamanya.
Lantas, bagaimana saya menggoda dirinya? Saya perhatikan, jika saya menemaninya main game di sudut favoritnya di teras rumah, sambil ngobrol ringan dan ngopi bareng. Atau, sekali waktu saya mendengarkan curhat-nya tentang kantor, itu membuat dia relaks dan bahagia. Nah, jika saya memang menginginkan situasi ini berakhir dengan bercinta, maka saya pakai rok pendek atau hotpants dengan baju berkerah V sampai menonjolkan cleavage. Cara ini 90% berhasil mengajaknya bercinta. Jika dia masih lempeng menanggapi sinyal, maka keluarlah kalimat ini: ”Yuk, ML!”
Tak ada salahnya to the point, bukan? Seduction hanya satu cara penggairah kehidupan cinta bersama suami. Tapi, komunikasi fisik harus terus berlanjut. Seperti filosofi para pelaku industri entertainment, apa pun yang terjadi show must go on. Ini cara saya, bagaimana dengan Anda?
Karisma Pelangi (Kontributor - Jakarta)