Seiring bertambahnya usia, biasanya karier, gaji, bahkan tingkat kedewasaan kita ikutan meningkat. Sayangnya, hal itu nggak berlaku dalam urusan percintaan. Makin kita tua, mencari pacar, tuh, rasanya juga makin sulit.Maklum, pergaulan juga makin terbatas. Akibatnya, begitu punya pacar, kita berusaha mati-matian buat mempertahankan! Oh Oh...
Is
He Really Worth The Wait?
Memangnya salah, ya, berusaha mempertahankan hubungan? Well, tergantung. Jika si dia memang worth it, silakan saja.
Tapi seringnya, nih, gara-gara lagi dimabuk cinta, kita malah membohongi diri dan hidup dalam ilusi seolah si dia memang jodoh yang ditakdirkan buat kita. Misalnya, saat si dia membentak kita di depan umum, kita justru 'membela' dengan alasan mungkin si dia lagi capek sehingga terbawa emosi. Begitu pun saat si dia sering membatalkan janji, kita masih membela dengan alasan si dia banyak kerjaan. Padahal, jelas-jelas kelakuannya itu menunjukkan sikap merendahkan kita, kan....
Coba lihat tabel di bawah ini, lalu jawab dengan jujur, si dia lebih banyak memenuhi kriteria di kolom mana?
|
V |
X |
|
Berusaha keep in touch dengan kita sesering si dia bisa (entah melalui telepon, SMS, e-mail, dll). |
Si dia menghubungi kita sesuka-sukanya. Kalau bukan kita yang memulai, si dia jarang inisiatif menghubungi duluan. |
|
Menepati janjinya untuk menelepon. |
Butuh waktu lama untuk sekadar balas SMS. |
|
Memerhatikan apa saja kesukaan kita. |
Nggak berusaha membuat kita senang. |
|
Nggak ragu menunjukkan perasaannya agar kita tahu betapa si dia menyukai kita. |
Membiarkan kita bertanya-tanya, seserius apa perasaannya pada kita. |
|
'Lupa' bahwa selain kita ada banyak cewek lain di luar sana, he he he. |
Suka curhat tentang kelakuan cewek-cewek di dekatnya selain kita. |
Masih 'membela' meski si dia banyak memenuhi kriteria di kolom merah? Tenang, kita nggak sendiri, kok. Saat benar-benar menyukai seseorang, manusiawi banget jika kita mencari 1.001 alasan untuk menutupi perilaku minusnya, seolah yang si dia lakukan memang wajar.
Bagaimanapun, jauh di lubuk hati kecil, kita ingin punya hubungan yang berhasil, kan? Apalagi, melihat sahabat satu per satu menemukan belahan hatinya dan menikah—nggak mau, dong, jadi single sendirian....
Padahal, sih, kalau boleh jujur,
kita sebenarnya tahu bahwa si dia bukan 'husband material'. Selain
kelakuannya yang kekanak-kanakan, pemikiran-harapan-keinginan kita dan si dia
pun banyakan nggak nyambung! Tapi, apa nggak capek terus-menerus membohongi diri sendiri? CC