Sex & Relationship
Kita Bertanya, Ginekolog Menjawab

23 May 2012



Saat berhadapan dengan ginekolog, kita wajib menyingkirkan rasa malu dan risih. Memang tugas mereka, kok, buat menjawab pertanyaan seputar seks dan organ reproduksi kita. Lagi pula, nih, malu bertanya cuma bikin kita sesat di jalan—dan pastinya makin penasaran, he he.
    Biar pikiran lebih terbuka, CC punya lima pertanyaan (yang mungkin segan Anda tanyakan) untuk dijawab oleh Dr. Stella Yapari, SpOG. Semoga nggak penasaran lagi, ya.


Go Kinky!

Q: Belakangan saya senang bereksperimen, baik soal posisi hingga role play. Wajar nggak kalau cewek suka kinky sex?                             

A: Tidak ada yang aneh bila Anda senang bereksperimen soal seks. Saya mendukung perempuan dengan sifat terbuka seperti Anda. Sebab, banyak perempuan bersikap introvert dan cenderung menerima perlakuan pasangan apa adanya. Padahal, hal ini justru sering menimbulkan keluhan baru, misalnya sulit orgasme. Pada dasarnya perempuan dan laki-laki memiliki hasrat dan pandangan seksual yang kurang lebih sama besar.

Pelumas Alami

Q: Kenapa cairan lubrikan yang keluar dari vagina bisa berbau nggak enak? Normalnya seberapa banyak jumlah ‘pelumas alami’ tersebut?             
        
A: Jumlah lubrikan yang keluar berbeda pada tiap individu. Jadi, susah ditentukan ukuran normalnya. Jika ingin mengukur, gunakan jumlah rata-rata dari tiap lubrikan yang keluar saat Anda berhubungan seks. Lubrikan memang memiliki bau yang khas akibat lubrikan vagina memiliki ‘suasana’ asam untuk menjaga rahim dari bakteri patogen.
   Sebaiknya, Anda lebih menaruh perhatian pada warna lubrikan yang keluar. Bila terjadi infeksi pada vagina, salah satu tandanya adalah terjadi perubahan warna karena normalnya terlihat jernih.

Oh, Orgasme…
Advertisement
Q: Kenapa saya susah orgasme? Padahal saya selalu bersemangat saat bercinta. Anehkah bila akhirnya saya memuaskan diri dengan melakukan masturbasi?

A: Seperti diketahui secara umum, perempuan memiliki kebutuhan waktu rangsang yang sedikit lebih lama dibandingkan laki-laki. Hal ini sering kali menimbulkan masalah ketidakpuasan seksual yang klasik. Saat laki-laki sudah ejakulasi atau orgasme, si perempuan masih dalam tahap ‘bangkit’.
   Bila masalahnya durasi, sebaiknya Anda pecahkan bersama sebelum menggunakan bantuan medis, konseling, ataupun terapis (penggunaan obat penguat, dsb).Tidaklah memalukan bila Anda terbuka terhadap pasangan akan hal ini.

Kondom Membatasi Kepuasan
Q: Saya dan pasangan sepakat mencegah kehamilan. Jika menggunakan kondom, saya nggak menikmati bercinta. Namun, saya takut menggunakan spiral karena teman mengeluh dia kesakitan setiap kali bercinta. Seberapa aman teknik coitus interruptus?     

A: Teknik coitus interruptus bisa dikatakan cukup aman HANYA bila si laki-laki betul-betul tahu mengendalikan ejakulasinya. Teknik ini memiliki peluang kesalahan yang besar dibandingkan alat KB. Soalnya, keberhasilan coitus interruptus ditentukan oleh ‘keahlian’ si laki-laki. Bila Anda enggan menggunakan spiral dan kondom, saya menganjurkan teknik lain, seperti suntik setiap tiga atau enam bulan.

Seks Oral
Q: Saya ingin meminta suami melakukan oral sex. Tapi saya nggak pede dengan aroma vagina dan pubis yang tumbuh di sana. Apakah ada trik tertentu agar aromanya selalu segar dan pubis terlihat rapi?                             

A: Oral sex aman selama vagina Anda tidak terinfeksi dan dilakukan tanpa berganti pasangan. Tidak ada infeksi silang yang terjadi antara bakteri flora normal pada vagina dengan mulut, kecuali pada saat itu daerah kemaluan sedang terinfeksi oleh sesuatu.
   Untuk bau bisa dikurangi dengan cara membilas bersih bagian luar vagina menggunakan air bersih sebelum berhubungan. Namun, sangat tidak dianjurkan untuk mencuci hingga ke bagian dalam dengan menggunakan gurah maupun douche yang belum terbukti secara klinis.
    Soal bulu pubis, Anda dapat mencukurnya, tetapi harus berhati-hati agar jangan sampai lecet. Jaga pula kebersihannya sebelum dan sesudah bercukur untuk menghindari infeksi. CC




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?