Ridley Scott kembali menyutradarai babad baru tentang gladiator di masa kejayaan Romawi menguasai berbagai negeri di seluruh dunia. Skenario ditulis oleh David Scarpa (Napoleon, 2023) berdasarkan karakter yang diciptakan David Franzoni, menggabungkan karakter nyata (dengan akurasi cukup baik) dan karakter fiktif.
Marcus Acacius (Pedro Pascal) adalah Jenderal Romawi yang berhasil menaklukkan Numidia di Afrika, meski hatinya mulai tak nyaman menjajah. Ia adalah jenderal di kala Romawi berada di era ala jahiliah dipimpin dua kaisar kembar yang sama gilanya, Geta (Joseph Quinn) dan Caracalla (Fred Hechinger).
Para tawanan perang dijual sebagai budak; salah satunya adalah Hanno (Paul Mescal), yang dendam pada Acacius karena istrinya tewas di medan perang. Kemampuan bertarung Hanno membuatnya dibeli Macrinus (Denzel Washington) untuk jadi gladiator. Perjalanan Hanno ke Roma dan bertanding sebagai gladiator mempertemukannya kembali dengan sang ibu, Lucilla (Connie Nielsen).
Di kala cerita mulai dramatis, Macrinus mencuat yang ternyata memiliki ambisi tersendiri untuk menggulingkan Geta dan Caracalla. Tokoh Macrinus seperti Durna dalam babad Mahabharata; kingmaker sekaligus pengadu domba yang punya agenda tersendiri.
Sayangnya durasi Gladiator II terlalu cepat; perkembangan emosi Hanno yang awalnya membenci Lucilla namun kemudian membela sang ibu tidak tampil prima. Pengakuannya sebagai Pangeran Roma juga seperti dadakan.
Tokoh antagonis Macrinus pun kurang terbentuk karakternya; dibandingkan Geta dan Caracalla yang sewenang-wenang dengan kekuasaan mereka, Macrinus justru lebih berbahaya seperti serigala berbulu domba.
Jika kita sudah pernah menonton Gladiator, Gladiator II sedikit mengecewakan (biarpun mata biru Paul Mescal asli menghanyutkan). Namun jika Gladiator II kita tonton pertama kali, film yang tayang di Indonesia 13 November ini menghibur, di tengah kerakusan penguasa Roma dan para penduduknya yang haus hiburan penuh darah. Seperti kata Macrinus, "Kekerasan adalah bahasa universal."
Zornia Harisantoso