“Terinspirasi dari perjuangan teman-teman saya yang merupakan imigran Ethiopia di Amerika, saya berniat menuangkan kisah mereka dalam film. Saat terjadi konflik, bahkan perang saudara di negaranya, salah satu teman saya melarikan diri dan mencoba bertahan hidup di Amerika. Kegigihannya membuat saya kagum, meski tanpa keluarga, dia tetap gigih menjalani aktivitasnya di negara asing.
“Lewat film Brush with Danger, saya ingin menggugah simpati warga dunia agar peduli sesama, sekaligus menunjukkan banyaknya masyarakat di negara lain yang kurang beruntung namun pantang menyerah.
“Membuat film di Amerika jelas butuh dana besar. Untungnya berkat kegigihan saya dan tim dalam mencari sponsor, ada perusahaan yang membantu mengucurkan dana. Kami juga melakukan audisi pemilihan aktor lalu menjalankan syuting selama 27 hari. Aktor di Amerika luar biasa profesional, konsentrasi mereka tetap tinggi meski didera cuaca buruk.”
Datang ke Oscar
“Saya dan adik—Ken Zheng—juga turut berperan dalam film ini. Kami pun memasukkan unsur bela diri. Banyak yang bertanya pada saya, manakah yang lebih sulit, menjadi aktor atau sutradara? Saya menyukai keduanya dan tantangannya pun beda. Sebagai sutradara, aktor dan kru memandang saya sebagai pemimpin karena semua masalah di lokasi harus dapat saya atasi. Sedangkan sebagai aktor harus memiliki konsentrasi yang tinggi.
“Senang rasanya saat kedua hal yang saya jalani ini mengundang pujian dan saran dari sineas film lainnya. Saat film ini dirilis ke media, kami langsung mendapat tanggapan positif dari Bloomberg Business Week. Kami dikatakan cukup sukses sebagai pendatang baru.
“Dukungan lain juga datang dari Academy of Motion Picture Arts Sciences yang mengundang saya dan Ken menghadiri Oscar 2014 lalu. Bagai mimpi rasanya bisa bertemu dengan Leonardo DiCaprio, Amy Adams, dan seleb lain.”
Berbekal Bela Diri
“Perjalanan karier saya di dunia film bermula dari kecintaan saya pada bela diri. Bela diri nggak hanya membantu melindungi diri karena ada unsur seni di dalamnya. Setiap gerakannya mengandung makna dan indah dilihat. Nggak heran jika banyak film yang terinspirasi dari bela diri.
“Saat SMP saya bergabung dengan klub kendo dan mengikuti berbagai pertandingan bertaraf nasional maupun internasional seperti ASEAN Kendo Tournament di Singapura. Saat masih remaja pun sudah tebersit keinginan untuk membuat film yang dilengkapi martial arts. Sepertinya film menjadi passion terbesar saya selain bela diri.
“Lewat turnamen dan klub, networking saya semakin bertambah, termasuk untuk terjun ke dunia film. Contohnya, kru produksi serial Laksamana Cheng Ho memercayai saya sebagai atlet untuk membantu proses syuting mereka. Saya kemudian membantu menyiapkan properti dan kebutuhan lain di lokasi syuting.”
Fokus di Film
“Tahun 2007 saya hijrah ke Amerika untuk melanjutkan sekolah di University of Washington di Seattle. Saat itu saya mengambil jurusan ekonomi karena ilmu ini selalu diperlukan di berbagai profesi. Berhubung nggak ingin lepas dari bela diri, saya juga mulai mempelajari karate. Ada 25 medali yang saya dapatkan selama mengikuti pertandingan karate di Amerika. Saya yakin jika banyak berlatih, pasti dapat mengukir prestasi di luar negeri.
“Begitu lulus S1, tekad saya menempuh pendidikan di perfilman semakin besar. Saya memutuskan mendaftar ke University of Southern California (USC) karena banyaknya filmmaker top Hollywood—seperti George Lucas dan Robert Zemeckis (sutradara Forrest Gump)—yang telah menimba ilmu di sini. Bayangkan, fasilitas kampusnya menyerupai studio film besar di Hollywood. Keinginan saya untuk membuat film bermutu semakin terpacu.
“Brush with Danger sudah tayang di bioskop-bioskop Amerika pada Oktober 2014 lalu. Senang rasanya mendapatkan banyak tanggapan positif untuk film ini.
“Produktivitas pun harus terus berlanjut. Saat ini saya tengah menggarap film kedua yang bergenre thriller sekaligus laga. Saya mengajak beberapa aktor yang cukup ternama bergabung di film ini, seperti Madeline Zima, Keith David, dan John Savage. Meski syuting mengharuskan saya bekerja hingga pagi, saya menikmati besarnya jejaring yang didapat.”