Money
Keuntungan Berlipat

11 Mar 2016


Masyarakat Indonesia sebagian besar masih percaya tabungan karena menganggap tabungan lebih aman, jelas di mana keberadaannya dan bersifat lebih pasti. “Kita selalu terbiasa dengan hal-hal yang sifatnya pasti dan instan. Seperti menabung yang dapat kita ketahui pasti hasilnya. Sementara berinvestasi, pertumbuhannya tidak bisa dipastikan di awal,” jelas Ryan Filbert, analis dan praktisi pasar modal.

Kendati bukan sesuatu yang bersifat pasti, investasi tetap lebih menguntungkan dibandingkan dengan menabung. Irwanti, Manajer Portfolio Ekuitas Schroder Indonesia, menjelaskan bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang masih cukup tinggi, berinvestasi saham memberikan hasil balik (return) yang paling menarik. “Kalau menabung, return-nya hanya naik maksimal 7 persen per tahun. Sedangkan investasi saham, dalam jangka waktu 5 tahun bisa naik hasilnya hingga 25 persen,” tambahnya.

           
Berbeda dengan menabung atau deposito yang keuntungannya hanya didapatkan dari bunga saja, dengan berinvestasi saham kita akan mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pertama, dengan membeli saham, ada harapan untuk menerima pembagian keuntungan dari uang yang kita investasikan tiap tahunnya (dividen). Kedua, laba yang diperoleh dari hasil investasi yang nilainya lebih besar dari saat pembelian (capital gain).
           
Advertisement
Jika selama ini berinvestasi saham identik dengan ‘permainan’ uang puluhan dan ratusan juta rupiah, kini saham dapat dibeli secara  eceran dengan harga yang lebih murah. Salah satunya didorong oleh perubahan peraturan yang diberlakukan BEI pada awal tahun 2014. Bila sebelumnya 1 lot saham berisi 500 lembar, kini menjadi 1 lot berisi 100 lembar. Dengan penurunan isi 1 lot saham tersebut, dana yang dibutuhkan masyarakat untuk membeli saham menjadi lebih sedikit, sehingga lebih ramah untuk kalangan masyarakat kelas menengah.
           
Meski menjanjikan hasil balik yang lebih besar dibandingkan instrumen investasi lainnya, apa pun yang berkaitan dengan investasi pasti tak ada yang tanpa risiko. Keuntungan yang tinggi sama dengan risiko yang tinggi pula. Tingginya risiko ini yang membuat masyarakat Indonesia masih enggan mengambil investasi saham demi keuntungan yang setimpal.
           
Penelitian Manulife Investor Sentiment Index tahun 2014 melansir,  walaupun masyarakat Indonesia optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi, sekitar 73 persen responden lebih memilih berinvestasi di instrumen yang minim risiko, seperti properti, obligasi, atau reksa dana pendapatan tetap. Sementara, hanya 27 persen saja responden yang cukup berani berinvestasi dengan risiko tinggi di saham atau reksa dana saham.

Terlebih ketika kondisi pasar modal yang fluktuatif, risiko volatile harga pasar yang naik turun sesuai siklus ekonomi pun akan memengaruhi hasil balik dari investasi tersebut. Ditambah dengan kebijakan politik atau ekonomi yang dianggap dapat memengaruhi harga saham perusahaan. Hal ini menjadi ‘hantu’ yang kerap dihindari masyarakat, karena tentu kita tak mengharapkan kerugian. Bahkan menurut Irwanti, masyarakat menganggap berinvestasi saham itu seperti gambling.(f)




 



polling
Seberapa Korea Anda?

Hallyu wave atau gelombang Korea masih terus 'mengalir' di Indonesia. Penggemar KDrama, Kpop di Indonesia termasuk salah satu yang paling besar jumlahnya di dunia. Lalu seberapa Korea Anda?