Begini, nih, caranya…
Terbuka dari Awal
Semua orang punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan promosi. Siapa, sih, yang nggak mau naik jabatan? Selain kita, pasti ada rekan (bahkan musuh) kita yang sama-sama menunjukkan kemampuan mereka. Selama bos belum memutuskan siapa yang akan mengisi posisi tersebut maka kompetisi terbuka tetap berlaku.
Saling merahasiakan ambisi meraih jabatan justru membuat situasi kerja tidak nyaman. Sebaiknya kita jujur dan menceritakan apa yang terjadi pada sahabat yang juga mengincar promosi itu. Jaga perasaan wajib hukumnya supaya tidak ada pihak yang merasa dikhianati.
Promosi Vs Persahabatan
Wawancara dan presentasi biasanya jadi faktor penentu apakah bos masih tertarik untuk mempromosikan kita. Selama menunggu hari H, jangan membuka konfrontasi. Bersikaplah biasa dan kerjakan setiap tugas secara profesional, apalagi kalau kita memang satu tim dengan dia. Jika perlu, bicarakan dari hati ke hati segala kemungkinan dan bikin semacam kesepakatan bersama biar kita nggak ricuh sendiri di kemudian hari.
Yakinkan juga padanya bahwa keputusan akhir ada di tangan bos. Sehingga kita dan dia yang sama-sama menginginkan promosi itu harus berusaha sendiri sebaik-baiknya. Jika sahabat mempertanyakan kelanjutan persahabatan ini, beri jawaban dewasa dan tekankan bahwa sebuah promosi tidak sebanding dengan persahabatan yang sudah terjalin.
Dia Menang!
Mimpi buruk jadi kenyataan kalau sahabat ternyata jadi pemenang. Ucapkan selamat secara sportif kepada sahabat kita sesuai kesepakatan awal. Berpikirlah positif karena kekalahan hari ini adalah sebuah kemenangan yang tertunda.
Memang nggak mudah menerima status baru sahabat. Malu, stres, dan nggak pede itu wajar, kok. Time heals. Kalau kita sudah bisa menerima kenyataan dengan besar hati, kita bisa minta bocoran rahasia suksesnya. Bandingkan isi materi presentasi atau strategi wawancara miliknya, siapa tahu ada hal yang bisa dicontoh untuk memperbaiki kekurangan kita. Gagal pun, kita masih bisa meningkatkan kualitas diri kita! CC