So, biar pecah 'telur', ada beberapa hal kudu diperhatikan, nih!
Tegar, dong!
Meratap karena kesepian, sih, sah-sah aja. Kalau meratapnya cuma sama diri sendiri atau curcol ke sahabat juga masih mending. Tapi nggak banget, deh, kalau sampai curcol di status.
Parahnya, begitu status kita dikomentarin, kita langsung menumpahkan semua isi hati kita. Nggak bisa disulut sedikit, langsung curhat! Kesannya nggak bisa hidup tanpa cowok.
Hard to get
Hari gini masiiih aja terpaku dengan idola. Mentang-mentang kita doyan cowok seganteng Irfan Bachdim, maunya dapat cowok yang seperti itu juga. Atau karena kita kagum dengan Jon Favreau, kita maunya dapat cowok yang sesukses itu.
Wah, ngaca, dong, pantas aja cowok-cowok malas pdkt ke kita. Memangnya kita sekeren itu, ya, sampai nggak boleh ada cowok 'biasa' yang mendekati. Turunkan sedikit kriteria kita, dong, jangan berpatokan dengan cowok-cowok di chick flicks—itu, sih, nggak realistis.
Easy to get
Kebalikannya juga sama aja negatifnya. Easy to get bukan berarti kita cewek murahan, tapi artinya kita terlalu ngarep. Iya, ngarep, alias baru ada cowok yang mendekat sebentar aja kita sudah heboh.
Mulai dari meneleponnya setiap saat hanya untuk say hi atau mengingatkan makan siang, bela-belain mengantar hasil masakan kita ke kantornya, sampai setiap saat me-retweet atau mengomentari semua statusnya di media sosial.
Kalau keadaannya dibalik, pasti kita merasa risih, kan? Belum juga jadian, kok, sudah lebay. Si dia juga merasakan hal yang sama. Beneran, deh, lebih baik menunggu daripada harus agresif duluan. Kalau si dia jodoh kita, dia nggak bakal kemana-mana, kok. CC