Sukses menghadapi ujian ini bisa dijadikan jaminan bahwa kita berdua bisa naik ke tahap yang lebih serius. Gaya pacaran sehat (di hati dan pikiran) tentunya melibatkan sejumlah pengertian karena kita dan si dia memang dua orang berbeda.
Kalau dibiarkan saja, enak di dia, kan. Sebenarnya kita boleh mempertimbangkan setiap masalah dalam tiga tahap, yaitu memaafkan, mau berkompromi, hingga memberi ultimatum putus dengan catatan sudah nggak ada alasan untuk mempertahankan hubungan.
Dan kalau sudah bubar nggak perlu sedih berlarut-larut, masih banyak, kok, cowok keren di luar sana!
1. Penyakit lupa
Boleh dimaafkan:
Berhubung kesempurnaan hanya milik Tuhan, kita nggak bisa memaksakan si dia untuk selalu on-time saat janjian. Sesekali ngaret 5-10 menit dari waktu yang telah dijanjikan karena lupa menyalakan alarm nggak apa-apa, deh.
Apalagi kalau si dia muncul dengan wajah memelas dan akhirnya memberi kejutan manis untuk menebus 'kesalahannya'. Nggak tega, kan...
Kompromi aja:
Lupa tanggal jadian, lupa telepon atau SMS, lupa waktu ketika jalan dengan geng cowoknya, atau lupa jemput? Uh, nyebelin banget!
Tapi kita juga nggak boleh egois karena mungkin si dia kudu memikirkan banyak hal di saat bersamaan. Mending kita tegur dan coba duduk bareng untuk ngomongin harapan kita ke si dia dan gimana solusinya.
Biasanya, sih, setelah diberi tahu cowok bakal lebih berhati-hati biar nggak ngecewain kita lagi.
Minta putus:
Nggak usah banyak mikir kalau saat berduaan si dia sering salah panggil nama kita dengan nama cewek lain (bahkan mantannya). Jangan-jangan dia punya selingkuhan atau belum bisa melupakan si mantan!
2. Plin-plan
Boleh dimaafkan:
Si dia sering bingung memilih saat membeli barang atau memutuskan mau kencan di mana sebenarnya bukan hal besar yang mengancam hubungan kita.
Mungkin dia punya pertimbangan sendiri sebelum menjatuhkan pilihan. Kalau untuk hal-hal kecil sudah terbiasa berhati-hati, maka sisi positifnya si dia (semoga) nggak bakal salah membuat keputusan besar.
Kompromi aja:
Berteman baik dengan cewek atau mantan, sih, boleh-boleh aja. Tapi kalau urusan 'pertemanan' tadi sering mengganggu acara kencan dan bikin si dia selalu menomorduakan kita, tandanya sudah keterlaluan, dong. Bicarakan baik-baik keberatan kita supaya si dia bisa menentukan prioritas.
Minta putus:
Hubungan sudah berjalan tahunan tapi nggak ada tanda-tanda kita bakal segera dilamar? Kayaknya si dia terlalu yakin, deh, kalau kita sabar menunggunya sampai kapan pun.
Biarkan dia asyik mengejar karier atau bermain dengan dunianya sendiri, sementara kita sudah 'terbang' mencari seseorang yang lebih siap berkomitmen.
3. Jorok
Boleh dimaafkan:
Wajar, kok, kaum cowok malas mandi ketika menghabiskan liburan di rumah aja. Asal kebiasaan ini langsung dia ditinggalkan begitu ke luar rumah atau janjian bertemu dengan kita. Malu juga, kan, kalau ada teman kita yang membocorkan 'rahasia' ini.
Kompromi aja:
Kalau kebetulan pacar kurang menjaga kebersihan tubuh hingga menimbulkan bau yang nggak sedap, kita kudu mengingatkannya. Soalnyan masalah bau badan memang agak sensitif. Kan, demi kebaikan dia juga.
Minta putus:
Cowok yang nggak tahu etiket biasanya sulit buat menghargai kita. Meski fisiknya keren kalau kelakuan nggak oke bikin malas, ah! CC