- Mengaktifkan fitur silent dan vibrate, terutama pas rapat. Sedikit getaran sudah cukup bikin kita ngeh, kok, jika ada telepon masuk.
- Durasi ngobrol nggak lebih dari lima menit, kecuali ada kondisi darurat. Misalnya, ortu masuk rumah sakit, kabar saudara meninggal dan lainnya.
- Menghindari pembicaraan tentang uang, berapapun jumlahnya. Selain nggak etis, takut menimbulkan kesan sombong jika nominal yang diomongin lumayan besar.
- Menghindari topik seks.
- Jika menunggu telepon penting sementara kita sedang bertemu klien, jelaskan di awal dan jangan lupa minta maaf sebelum menjawab telepon.
- Di pesta kantor, nggak perlu mengirim SMS atau asyik BBM-an kecuali mendesak. Kesannya, nih, kita bosan dengan acaranya. Meski kenyataannya memang demikian, sih, hehehe....
- Permisi sebentar dari ruang rapat jika ada telepon penting yang harus diterima.
- Jika harus membatalkan janji dengan klien, sebaiknya minta maaf melalui panggilan telepon daripada lewat SMS. Lebih sopan.
DON'TS
- Memasang nda dering suara erotis. Awalnya memang lucu. Tapi lama-lama bikin jengah! Efek lanjutannya? Cap vulgar menempel selamanya.
- Meladeni sahabat yang curhat panjang lebar tentang kelakuan minus pacarnya. Tunda sampai jam pulang kantor, ya.
- Berbicara dengan nada kencang. Percaya, deh, microphone di ponsel kita cukup sensitif. Bahkan kita berbisik pun lawan bicara masih bisa mendengar. Tes saja kalau nggak percaya.....
- Mengeluarkan kata-kata atau kalimat kotor.
- Bentar-bentar melirik ponsel saat lagi bertemu klien. Kesannya kita nggak memberi perhatian penuh dan ingin secepatnya mengakhiri pertemuan.
- Bentar-bentar nge-Tweet dan update status di Facebook.
- Menggunakan bahasa SMS yang disingkat dan membingungkan. Gunakan tata bahasa, ejaan dan tanda baca yang umum supaya gampang dimengerti. Ejaan ala alay, dilarang keras!
- Bertengkar sama pacar, apalagi sampai saling bentak. Sebaliknya, ngobrol terlalu mesra dan intim pun sebaiknya dihindari. Kasihan yang jomblo, hehehe.... CC