Tadinya, sih, kita bangga berat diangkat jadi bos baru. Kerja keras kita selama dua tahun terakhir ini menghasilkan buah manis. Sayangnya, posisi baru ini malah jadi beban gara-gara rekan kerja yang tadinya setara jadi jaga jarak.
Bingung? Nggak perlu. Kita tetap bisa, kok, jadi bosa asyik namun tetap profesional. Dijamin, anak buah yang dulunya rekan kerja bakal menghargai posisi kita dan tetap bisa berteman dengan kita. Simak, deh, beberapa kiat dari Rima Olivia, konsultan karier dari Experd.
Nggak Mudah
Saat menduduki posisi baru, pastinya nggak mudah buat bersikap 'netral'. Apalagi jika kita bertanggung jawab menilai hasil kerja bawahan kita. Kalau kita terlalu 'ketat' memberikan angka, takutnya bawahan jadi bete dan memusuhi kita. Terlalu longgar? Bisa-bisa kita yang 'dibantai' bos besar!
“Biar sama-sama enak, sebaiknya sebagai atasan, kita menilai rekan kerja secara objektif. Caranya, selalu melakukan penilaian berdasarkan data. Gunakan ukuran objektif yang bisa dilihat semua orang,” jelas Rima.
Misalnya, nih, bawahan kita bekerja lambat dan sering kali tidak bisa memenuhi tenggat waktu. Kita bisa menegurnya dengan cara,
“Laporan kamu sudah telat dua hari dari timeline yang disepakati klien. Kalau keterusan, kita bisa dimarahi klien, nih. Besok jangan lagi, ya.”
Selama kita bisa tetap tenang dan nggak memarahinya di depan umum, pasti bawahan nggak akan tersinggung.
Harap Maklum!
Pas masih sama-sama rekan kerja, kita punya waktu bersama. Begitu kita diangkat, rekan kerja lama-kelamaan 'mundur' teratur dan enggan bergabung dengan kita. Malah, yang biasanya gosip bareng mulai bermain rahasia!
“Sediakan waktu sebagai teman. Ini memang sulit karena dengan bertambahnya beban pekerjaan dan tanggung jawab, biasanya jadwal kita dan bawahan jadi berbeda. Kalaupun nggak sempat makan siang bareng, tetap jalin hubungan dengan mengurum SMS atau nonton bareng,” jelas Rima.
Sayangnya, nih, sikap bersahabat kita bisa disalahgunakan oleh bawahan. Mereka cenderung nggak menghargai kita dan belum menyelesaikan tugas pada waktunya. Dengan mudahnya mereka minta pemakluman. Nyebelin nggak, sih?
“Tetaplah minta tangung jawabnya sebagai anak buah kita. Tegaskan pula padanya, jangan sampai karena kita bosnya, dia malah minta keringanan. Ajak dia untuk membuktikan kalau dia memang karyawan yang berkualitas.” CC