Mengambil hati bos? Termasuk politik kantor, tuh! Nggak perlu segan. Menurut konsultan karier Yani Karina Tasha mengatakan asal kita melakukannya untuk alasan tepat, hal tersebut boleh dilakukan. Politik apa yang harus dijalankan?
- Berprestasi dalam urusan pekerjaan, dong! Akan lebih bagus lagi kalau kita pintar dalam bersikap. Lakukan, deh, hal positif. Nggak perlu mikir terlalu ribet, cukup hal sederhana seperti tersenyum, menyapa, atau menanyakan kabar. Bukan cuma pada bos, tapi juga ke rekan lain di kantor, supaya nggak dianggap carmuk.
- Jadilah pendengar yang baik, sopan, dan humoris dengan rekan rekan kerja. Jika kita berhasil merebut hati banyak orang, kesempatan dilirik untuk dipromosikan akan terbuka lebar.
Bos pilih kasih?
Usaha mengambil hati bos sudah dilakukan, tapi ternyata bos malah pilih kasih. Dibandingkan rekan seangkatan, kita dijadikan anak tiri. Meski gimana, yaa...
Kalau bekerja dengan baik, sih, nggak perlu ambil pusing, apalagi sampai menyalahkan diri sendiri. Bos pilih kasih terjadi di luar kontrol kita, kecuali dia bersikap begitu karena memang kita yang bikin masalah.
"Selama dari sisi profesionalisme kita nggak dirugikan oleh sikap bos dan tidak mengganggu pekerjaan kita, jangan membesarkan masalah ini. Yang penting kita tetap dapat perlakuan yang adil sesuai perusahaan," lanjut Yani.
Lain soal jika kita merasa dirugikan, lebih baik diskusikan dengan atasan kita. Kalau memang nggak ada solusi, coba minta bantuan ke pihak yang netral, HRD misalnya.
Tapi jangan dicuekin juga. Coba selidiki, siapa tahu rekan kerja yang jadi anak bos memang berprestasi cemerlang. Nggak ada salahnya kita mencontohnya biar ketularan jadi anak emas juga.
Cuti ditolak
Kebetulan kita mendapat tawaran menarik berlibur dengan teman-teman. Sudah siap liburan, eh, cuti kita ditolak bos!
Sebelum mengajukan cuti, biasakan, deh, melobi bos. Janjikan bahwa semua tugas kita sudah selesai saat cuti nanti. Lebih bagus lagi kalau kita bisa menyelesaikannya lebih cepat dari target waktu yang ada.
"Bila perlu, tawarkan pula tanggung jawab lain yang bisa kita kerjakan sekarang. Jangan lupa tekankan kalau kita benar-benar butuh cuti, bukan untuk alasan yang dibuat-buat," lanjut Yuni. CC