Kita harus mengenali gap antara skill yang dimiliki si anak baru dengan tuntutan perusahaan. Dengan begitu, kita tahu hal apa yang perlu dan nggak perlu diajarkan.
Caranya bisa dengan membaca CV atau 'wawancara' kecil-kecilan. Jangan lupa mencatat perkembangan si anak baru dari waktu ke waktu sehingga kita tahu sejauh mana keberhasilan coaching dan aspek apa yang masih perlu ditekankan.
Metode Tepat
Beda orang pasti beda karakternya, jadi, kita nggak bisa menyamaratakan metode coaching.
Si A misalnya, tipe yang harus dijelaskan secara detail langkah per langkah. Sementara si B langsung mengerti sekali dicontohkan. Nah, PR kita, deh, untuk mengenal perbedaan ini. Bukannya malah langsung 'menuduh' karyawan baru bodoh.
Menghidupkan Semangat
Saat menegur ketidakberesan si anak baru, niat kita, sih, sebenarnya baik. Tapi karena nada bicara atau kalimat yang dipilih kurang tepat, bisa jadi kedengarannya malah menjatuhkan. Bisa jadi si anak baru bukan tambah semangat melainkan drop dan merasa nggak mampu. Intinya jangan sampai cara yang kita gunakan bertentangan dengan niat sesungguhnya. CC