Tapi jika yang terjadi sebaliknya, kinerja kita kayaknya nggak pernah baik di mata atasan, duh, mengancam karier, nih! Atasan (menurut kita) sentimen nggak berarti hidup berakhir, dong. Masih ada jalan meraih keberhasilan kita.
Cari info
Nggak usaha cepat percaya kalau atasan membenci kita. Apalagi kalau hal itu disebarkan oleh rekan kerja lain. Kita harus kritis, bisa aja, kan, kabar itu berasal dari orang yang nggak suka kita. Perhatikan secara detail sikap atasan pada kita. Lihat lagi siapa sasarannya, hanya kita atau semua rekan sedivisi.
Waktunya berubah
Jadi motivasi
Bisa jadi sikap atasan hanya untuk memancing kita agar lebih kreatif. Jadikan sikap atasan yang sentimen ini sebagai motivator kita. Jangan menolak tugas yang diberikan, meski sebenarnya sulit banget. Lakukan sebaik mungkin. Sikap kita ini bakal jadi penilaian atasan melihat seberapa besarnya loyalitas kita.
Senyum, dong!
Gimana atasan nggak ikutan bete kalau kita sendiri jutek dengannya? Bersikap ramah, dong. Nggak usah berlebihan juga sampai menanyakan masalah pribadinya. Cukup dengan menyapa dia saat pagi, memberi senyuman dan pamit saat kita mau pulang. Biarin, deh, senyuman kita nggak dibalas. Yang penting atasan tahu kalau kita menghargai keberadaannya.
Kenapa, sih, bos?
Masih juga penasaran pada sikap atasan? Tanya langsung saja! Cari waktu yang tepat, lalu minta atasan mengevaluasi kinerja kita. Sampaikan kesulitan dan masalah yang dihadapi selama menjalankan tugas. Nggak hanya bikin pikiran kita lebih lega, tapi juga kita bisa mengetahui kekurangan kinerja kita. Lagipula atasan yang baik pasti nggak akan menganaktirikan anak buahnya, kecuali kelakuakn kita memang nyebelin abis! CC