Begitu ada anak baru yang masuk—apalagi masih fresh graduate—kita kudu siap diminta atasan untuk menjadi mentornya.
Role model dadakan
Saat diminta jadi mentor, kita juga harus siap jadi role model si anak baru. Maklum, sebagai pembimbingnya, cara kerja kita pasti bakal dia tiru. Karena itu, kita nggak bisa bersikap sembarangan lagi, tuh, misalnya telat datang ke kantor ataupun asyik bergosip sementara pekerjaan masih menumpuk.
Sebagai orang terdekatnya di kantor, nggak heran kalau si junior akan lebih nyaman menyampaikan keluh kesahnya kepada kita, terutama buat urusan pekerjaan. Selama bisa membantu, ya, jangan pelit berbagi saran. Tapi, ingatkan dia supaya berusaha dulu untuk menyelesaikan masalahnya sebelum mencari pertolongan dan nggak terlalu sering mengeluh.
Kambing hitam
Ketika hasil kerja si junior mengecewakan, kita harus ikut bertanggung jawab dan siap menerima teguran dari rekan kerja atau atasan. Mereka bisa berpikir kalau kita nggak mengajari si junior dengan baik. Jadi, kita nggak bisa memegang prinsip ‘tut wuri handayani’ alias cuma mendukung dari belakang aja, tuh. Mau nggak mau, kita ikut maju ke medan perang, hehehe.
Meneruskan ‘tongkat estafet’
Kita pun harus tahu kelebihan dan kekurangan si junior. Jangan hanya memberikan pekerjaan yang mudah, sesekali tantang dia untuk mengerjakan tanggung jawab yang semakin hari meningkat. Dengan begitu dia juga akan berkembang hingga akhirnya siap menjadi the next mentor. (FAI/FOTOSEARCH)