Namun ada beberapa batasan yang kudu kita perhatikan saat berkirim e-mail dengan bos atau klien. Nggak bisa sembarangan, nih!
Bukan SMS
Kebiasaan menyingkat kata di ponsel saat mengirim SMS haram dipraktekkan saat mengirim e-mail. Nggak hanya memperbesar kemungkinan miscom, kita juga nggak nyaman membacanya. Tulis semua pesan selengkap mungkin. Ruang di e-mail, kan, lebih luas dibandingkan ponsel.
Nanti saja, deh!
Bahan gosip kita saat makan siang belum selesai akibat waktu istirahat terbatas. Langsung, deh, memakai e-mail kantor untuk melanjutkannya. Sebaiknya nggak diteruskan kebiasaan itu. Selain buang waktu efektif kerja kita, bergosip lewat e-mail juga besar risikonya. Bisa saja kita salah memasukkan nama orang yang dituju. Kalau gosipnya hot banget, diobrolin saat pulang kerja juga tetap asyik, kok.
Subjek penting
Hal ini sepele, tapi berguna banget. Segala macam e-mail mulai dari yang serius sampai e-mail kocak yang nggak penting sering di forward untuk kita. Dengan memberikan subjek, penerima e-mail dapat menentukan apakah e-mail yang kita kirim tersebut mendesak dan perlu didahulukan.
Kok, senyum-senyum?
Mau kirim e-mail untuk bos? Nggak perlu memakai emoticon seperti :) apalagi jika isi e-mail kita formal seperti notulen rapat atau rangkuman presentasi. Emoticon digunakan saat ngobrol dengan teman saat chatting saja, deh.
Nggak asal forward
Dapat e-mail lucu dari teman di luar kantor pasti pengen buur-buru dibagi dengan rekan seruangan. Tapi perhatikan dulu sikon dan isi e-mail. Jika berbau porno atau SARA, mendingan simpan sendiri. Mem-forward juga nggak bisa ke sembarang orang, belum tentu bos besar menganggapnya juga lucu, kan.
Dilarang melamar
Mengirim e-mail berisi lamaran kerja ke perusahaan lain dengan domain tempat kerja kita sekarang? Nggak banget, deh. Selain kurang etis, kalau ketahuan bos bisa-bisa kita malah kena semprot atau diminta mengundurkan diri. Percaya, deh, yang begini sudah bukan kasus luar biasa saking seringnya terjadi. CC