Nggak selamanya tekanan di kantor berdampak negatif, kok. Bila kita menanggapinya dengan berpikir optimis dan yakin dengan kemampuan kita, justru kita akan semakin kreatif.
Tekanan sebenarnya melatih kita untuk mandiri dan menghadapi tantangan yang lebih besar. Selain itu kondisi tertekan biasanya membuat kita untuk lebih aktif berbagi pengalaman dengan orang lain terutama yang lebih senior dalam mencari tahu informasi tambahan.
Selain itu, kita pun akan lebih percaya diri dengan kemampuan kita. Berhasil melewati tantangan pertama, masa, sih, nggak bisa menjalani yang berikutnya. Justru kita bakal puas banget dengan hasil yang didapat. Kita juga termotivasi agar menjadi lebih baik lagi.
Misalnya, selama ini hasil kerja kita dicela atasan. Pasti kita terpacu mengerjakannya lebih maksimal, kan. Apalagi melihat rekan kerja yang dipromosikan. Kalau orang lain bisa, kita pasti sanggup, deh.
Protes boleh, asal....
Sebelumnya ajak rekan kerja yang dekat dengan kita untuk sharing pengalaman selama kerja. Mungkin saja mereka mengalami hal yang sama, namun masih takut mengungkapkannya.
Jangan ragu memberi masukan kepada perusahaan, apa saja yang masih kurang dan perlu diperbaiki, tapi dalam pelaksanaanya perubahan ini memerlukan dukungan semua pihak yang terlibat di dalamnya.
Nuke juga menyarankan pentingnya komunikasi dengan atasan dan HRD. Paling nggak pendapat kita sudah didengar. Mungkin saja atasan dan HRD bisa memberi solusi yang tepat.
Tapi sebelumnya kita kudu menunjukkan usaha kita. Misalnya, saat atasan mendelegasikan tugas yang deadline-nya mepet—padahal kerjaan kita yang sekarang juga belum selesai, coba dulu mengerjakannya sebisa kita. Maksudnya, sih, biar atasan nggak menilai kita hanya karena malas.
Keluar dari kotak
Curhat dengan teman-teman di luar kantor bisa jadi salah satu cara melepas kepenatan kita. Luangkan waktu setiap weekend atau pulang kerja untuk bersosialisasi. Tanyakan perubahan yang mereka lihat selama kita menjalani pekerjaan ini dengan tertekan.
Menilai keadaan diri kita nggak cukup dengan mengenal diri sendiri tapi juga masukan dari orang sekitar. Contohnya, tulis daftar situasi yang bikin kita tertekan lalu tulis efek sesudahnya.
Jika kita bisa melewatinya dengan baik berarti efeknya positif. Tapi jika teman-teman bilang kita emosian, frustasi, dan mengeluh kerjaan melulu, artinya kita belum sanggup menjalankannya.
Jangan sia-siakan juga jatah cuti dan libur yang kita dapat dari kantor. Gunakan untuk me-recharge energi kita. Jalankan hobi dan aktivitas baru yang nggak pernah kita coba, dan jangan membahas tugas kantor selama libur. Suasana dan kenalan baru bisa menambah jejaring juga, kan?
Tubuh kita diciptakan sedemikian rupa sehingga memiliki alarm sendiri apabila mengalami kondisi yang mengancam kestabilan fungsinya. Yang bisa menilai dan merasakannya kita, tuh, kita sendiri. Jika memang nggak kuat lagi, mulai, deh, melirik kantor lain. CC