Jangan buang menit pertama kita dengan berbasa basi seperti mengucapkan terima kasih pada tuan rumah atau penonton. Menit pertama merupakan momen di mana peserta memutuskan akan mendengarkan kita atau diam-diam otak-atik ponsel mereka. Kalimat pembuka presentasi kita harus memorable bagi peserta. Misalnya, ‘hal apa yang membuat Anda tersenyum terakhir kali?’
Dibikin nyaman
Merasa nervous beberapa saat sebelum tampil? Nggak perlu malu menunjukkannya pada peserta. Mendingan, nih, jadikan ini sebagai joke untuk mencairkan suasana. Lalu, kaitkan dengan tema pembicaraan. Bisa, kok, kita mengucapkan,”saya nervous, nih, mau tampil di sini. Kalau Anda, paling nervous saat kapan? Saat mau ngobrol dengan pria idaman, atau pas mau interview kerja?”
Cari tahu dulu apakah peserta acara adalah anak muda yang gaul, orang-orang yang suka segala sesuatu yang berbau gratisan, atau ibu-ibu muda? Dengan begitu, kita bisa memberi contoh dari kegiatan-kegiatan yang mereka sukai. Plus, tahu cara mencuri perhatian mereka.
Slow down
Saat menjadi pembicara kita mungkin merasa waktu berlalu dengan cepat. Namun, belum tentu dengan penonton. Hindari berbicara dengan terburu-buru—beri kesempatan pada penonton untuk mencerna pesan kita. Dengan begitu, mereka nggak akan berpikir, ‘ngomong apa, sih, nih, orang?!’
Variasi nada dan suara
Siapa bilang hanya aktor dan artis yang perlu memperhatikan nada dan volume suara? Kita juga perlu, tuh, saat tampil di depan publik. Coba, deh, variasikan nada bicara plus volume agar penonton nggak bosan. Akan lebih baik jika orang nggak bisa menebak hal-hal apa yang akan kita lakukan. Mereka jadi fokus mendengar, deh.